Get me outta here!

Rabu, 25 April 2018

UCING DITABRAK MOBIL

Sebelum melanjutkan cerita yang ingin aku ceritakan disini, aku ingin menceritakan Ucingku yang pernah aku ceritakan sedikit disini.

Ucing masih balita
Ucing pertama kali dibawa kerumah
Ucing dewasa


Kemarin, hari Kamis, sekitar jam 5 sore, Ucingku sudah pulang kerumah, gak tau darimana, mungkin bermain atau mencari selingkuhan, karena akhirnya Ucing diam diam udah punya 2 ekor anak yang lucu dan masih polos, gak ganjen, atau mungkin belom, karena anaknya dua dua jantan. Anaknya disimpan digudang rumah yang ada disebelah rumah bagian luar, tidak ada pintu, hanya ada atap dan banyak kayu kayu bekas. Alasan tidak kami ambil karena anaknya masih menyusu, induknya takut sama manusia, gak tau kenapa, padahal gak pernah kami bully.

Saat adzan magrib, Ucing masih ada dirumah, karena aku bermain dengannya, setelah itu aku wudhu untuk sholat lalu langsung ke kamar untuk sholat.

Bersamaan dengan itu juga, abangku pulang dengan mobil kantornya, yang entah kenapa hari itu di bawa pulang.

Lalu, Mama menyuruh adikku membuka pintu, saat itu juga Ucing keluar rumah, saat itu aku sedang sholat.

Setelah sholat, aku mengecek hp ku sebentar, memang aku mendengar suara kucing berkelahi, aku tau itu suara Ucing, namun aku gak terlalu peduli, karena sudah biasa Ucing berkelahi.

Tiba tiba, aku ingin melihat kucingku yang berkelahi, karena biasanya dia langsung pulang. Tapi, saat aku keluar kamar, aku melihat adikku dengan muka yang sedikit panik.
"Kak, Ucing kemana? tadi aku dengar Ucing berantem, terus, ada suara kaya ada yang ditabrak mobil, coba lihat, aku takut." Kata adikku
"Ucing kan didapur." Kataku sambil jalan kedapur.
Setelah didapur, aku mencari Ucing, tidak ada!!
Disitu, jantung aku langsung berpacu cepat, sambil menemui adikku yang diruang TV.
"Gak ada Ucing didapur, bentar aku lihat keluar, ya." Kataku.
Adikku mengikutku dibelakang.
Tiba diluar, aku lihat anak anak yang baru selesai sholat dimesjid dekat rumahku ramai di depan rumah, di sebelah selokan.
"Kak, ini kucingnya kenapa? tadi dia ditabrak mobil." Kata salah satu anak anak itu.
Aku tidak menjawab, karna aku juga melihat Ucing sudah didalam selokan, ketakutan, tidak langsung keluar dari selokan. Awalnya, aku pikir karena ramai orang. Segera aku angkat Ucing, lalu aku bawa kedalam rumah, ke dapur.
Sampai didapur, aku taruh Ucing diatas keset kaki, karena badannya kotor dan basah.


DUGG!!!
Rasanya, jantungku berdetak sekali dengan keras, lalu berhenti sebentar dan langsung berpacu dengan cepat.
Kenapa?

Karena, aku melihat Ucing jalan ngesot, kaki belakangnya tidak bisa diangkat, mengeong kesakitan.
Aku langsung berpikir
"Kaki belakangnya pasti patah!!"
Disaat itu juga aku langsung nangis dan memanggil adikku.
"Kenapa??" tanya adikku.
"Itu, Ucing kaki belakangnya patah, tadi jalannya ngesot"
Setelah melihat Ucing tidak bisa menggerakkan kakinya, adikku juga nangis.

Kami panik!!
Aku melihat Ucing seperti tidak terima kakinya patah, lalu, Ucing menyeret badannya ke arahku, naik ke pangkuanku, dan langsung kupeluk, dan ku elus elus kepalanya.
Disitu, Ucing terus mengong kesakitan, sesak nafas sangking sakitnya, darah keluar dibagian belakang, entah darimana, karna saat aku melihat, sudah banyak darah dilantai dan dicelanaku, Ucing juga seperti sedang sekarat.
Melihat Ucing, aku tambah nangis.
Siapa yang tega menabrak Ucing yang kami sayang, yang kami rawat dari kecil, hingga dia menderita begini? Disaat itu aku sangat kesal dengan orang yang menabraknya, walaupun aku gak tau siapa orangnya.

Mungkin, Ucing salah satu kucing didunia ini yang memiliki semangat hidup yang tinggi, sebelumnya ekornya juga patah, gak tau kenapa. Tapi dia masih bertahan.
Dan malam itu juga, Ucing bertahan.


Ucing baru ditabrak

Setelah beberapa lama mengeong kesakitan, Ucing mulai tenang, lalu dia turun dari pangkuanku, menyesot badannya mau keluar rumah, tapi aku tahan, lalu dia menuju kebawah meja makan. Lalu dia diam disana, merebahkan badannya.
Tidak berapa lama, dia menyeret lagi badannya, ingin naik ke atas kursi. Ucing memanjat menggunakan kaki depannya, namun tidak sanggup mengangkat kakinya. Segera kubantu. Dikursi, Ucing merebahkan badannya dan tenang disana, mungkin ingin tidur, jadi kubiarkan saja.
Sesekali saat aku terbangun tengah malam, aku langsung kedapur melihat keadaan Ucing, dan aku melihat dia masih dikursi meja makan, tidur. Lalu, aku balik ke kamar melanjutkan tidur.

Rupanya, Ucing bukan patah kaki, karena aku kadang melihat Ucing menggerakkan kakinya, kadang kiri, kadang kanan. Karena penasaran, aku mencari tahu di google. Setelah baca baca, disitulah aku tahu bahwa yang patah bukan kakinya, tapi tulang belakangnya, atau bisa dibilang pinggulnya.
Ya ampun.. Pantas saja jalannya ngesot.

Pagi, aku melihat Ucing masih dikursi, tidak mengeong kesakitan, hanya tiduran dikursi.
Pagi itu aku kuliah, pulang jam 12 siang. Saat aku tiba dirumah, aku langsung kedapur, melihat Ucing. Aku melihat Ucing sudah membaik, dan juga sudah ada dua ekor anak kucing yang dijilatinya. Aku langsung menabak, itu pasti anaknya.
"Itu anaknya?" kutanya adikku, walau sebenarnya aku sudah menabak, hanya ingin memastikan.
"Iya, aku ambil digudang, tadi dia (Ucing) melawan lawan kayak mau keluar pas dengar anaknya ngeong ngeong, terus aku ambil, aku bawak ke dia, baru dia betah, gak melawan lawan lagi." Kata adikku.
"Ohh, yaudah, berarti, biarin aja anaknya disini."kataku.

Ucing dan anak anaknya

Ucing dan anak anaknya


Malamnya, Ibu dari anak anaknya Ucing sibuk mengeong disekitaran rumah, jelas dia mencari anaknya. Karena kasihan, kami kembalikan satu ekor ke Ibunya, supaya di susui juga oleh ibunya, satu ekor tinggal sama Ucing, agar Ucing gak minta keluar.
Besoknya, anak yang sama Ucing, kami tukar dengan anak yang sama induknya, karena kasian semalaman tidak menyusu, dan begitu terus untuk hari selanjutnya.

Sudah kukatakan, Ucing tidur diatas kursi meja makan.
Pernah kulihat tiba-tiba Ucing sudah dibawah, tadinya kupikir dia jatuh, segera aku naikkan lagi ke kursi. Ternyata, Ucing pipis. Makanya dia turun.
Aku bingung, bagaimana cara dia turun? apa dia udah bisa jalan? tapi pas di pegang kok sakit?
Ternyata, Ucing turun kebawah, dengan cara menjatuhkan badannya kelantai, aku tau karena saat aku melihat Ucing, saat dia mau turun, langsung cepat cepat kubantu.

Karena kasian, kami pindahkan Ucing tidur di lantai yang kami alaskan bantal, lalu dialas lagi dengan kain biar anget.

Keesokan harinya, kondisi Ucing semakin memburuk, sampai hari Minggu, Ucing sudah tidak mau makan lagi, padahal kemarin, ketika aku suapin Whiskas, Ucing lahap memakannya, sekarang udah gak mau, tapi masih mau minum.

Sebelumnya, kenapa kami tidak membawa Ucing kedokter hewan? karena kami gak tau dimana dokter hewan disini, atau mungkin tidak ada, karena kami pun tidak pernah mendengar. Lagi juga biayanya pasti mahal.

Oke, balik lagi ke certia..
Hari Senin pagi pagi sekali, Mama, Papa dan Abangku harus pergi ke luar kota, karena Mamaku harus check up dan pulang hari Selasa. Aku tinggal berdua dengan Adikku.

Senin itu aku tidak ada jadwal kuliah, jadi bisa aku manfaatkan untuk mengurus Ucing dirumah, dengan kondisi Ucing yang semakin memburuk, karena pada sore harinya, ketika aku kasih minum, Ucing udah susah untuk nelan, rasanya sakit sekali. Lama kulihat, jujur aku sangat tidak tega karna melihat Ucing, sakit dan menderita, tidak bisa bermain, makan, bahkan sekarang tidak bisa minum.

Setelah sholat Magrib, aku lihat Ucing tidur, jadi kubiarkan saja, lalu aku makan.
Malam itu, sekitar jam 21.00, hujan sangat deras, tiba tiba aku ingat, didapur kalau sudah hujan deras begini, lantai di tempat Ucing tidur pasti basah, karena atapnya memang bocor.

Lalu, ku ajak Adikku untuk pindahin Ucing, sebelum lantainya basah.
Kami memindahkan Ucing, ku angkat Ucing dengan sangat hati-hati, Adikku angkat bantalnya.
Ketika aku menaruh Ucing dibantal, Ucing langsung tidur lagi.
Tapi, gak berapa lama, Ucing kejang-kejang, mengeong agak besar, aku tau dia sudah sekarat, kupanggil Adikku.
Dia panik, lalu nangis. Aku pun ikut menangis.
Anak Ucing juga bingung, langsung menjauh, lalu ku ambil.
Dan akhirnya.
Walaupun aku merawat Ucing sungguh sungguh, nyatanya, Allah lebih ingin merawat Ucing, dan akhirnya Ucing diambil oleh-Nya.

Udah, Tak mengapa, lagi pula aku gak sanggup lihat Ucing menderita, Ucing pasti sekarang sedang senang bermain main disana.

Terimakasih Ucing, udah temenin aku kalau lagi sendiri, temenin aku pipis kalau tengah malam, udah mau aku unyel unyel kalau sedang geram, udah mau aku peluk peluk karna gemes, udah mau nunggu depan pintu rumah kalau belum ada yang pulang kerumah, udah mau nunggu kalau telat dikasih makan.





kasian anak Ucing harus melihat Ucing pergi :(
Terimakasih Ucing udah sering ajak aku main, sangking semangat dan cerianya kadang aku sampe digigit dan dicakar.
Makasih juga udah punya anak yang lucu kaya kamu...


Anakmu unyu, cing


Ini juga, makasih ya, Ucing
Maaf juga Ibunya mereka, anakmu kami ambil waktu kami pergi, tapi kami kembalikan waktu kamu minta. Kami pinjam anaknya, ya. :)

Selamat jalan Ucing...









Minggu, 22 April 2018

SIAPA DIA ?

Peristiwa ini terjadi pada 20 Juli, 2013
Tepatnya lagi saat aku 
ulang tahun yang 
ke-16

Gimana di SMA (Yolanda & Nita & Rohani)

Yolanda...
Aku kenal dia ya karna dia duduk dibelakang aku, awalnya entah aku atau dia yang pura-pura sok akrab gitu, akhirnya kita jadi akrab beneran.. *Horeee!!!!

Awal liat dia tuh ya, buseeetttt, ciut nyali.
"Wah, kayanya nih anak galak nih, mukanya jutek gitu"
"Wah, kayanya ni anak ...
"Wahh kayanya ni anak kalau marah serem nih"

TERNYATA.....

Kalau udah deket sama dia, kita jadi tau kalau dia orang yang ramah, baik, suka bagi jawaban, dia yang senantiasa selalu rela dengerin cerita kami yang kadang gak penting, pengertian, yang selalu ketawa kalau diceritain cerita lucu walaupun padahal sebenarnya gak lucu.
(Yolanda, setealah kamu baca ini, adakah niat dihatimu untuk traktir aku bakso?)

Dia juga teman yang mau direpotkan.
Dia rela pergi dari rumah buat jemput aku kalau ada kegiatan disekolah pas bukan jadwal sekolah, kalau aku gak ada kendaraan buat kesekolah juga.

Kenapa repot?
Rumah kita itu memang searah, tapi buat kerumah aku, dia harus lewat sekolah dulu, dan dia mau jemput aku yang jarak dari rumah kesekolah kira kira sekitar 7 KM, lalu balik lagi kesekolah.
Sungguh teman yang baik.

Salah satu yang khas dari dia itu "TERIAKANNYA"
Kalau udah dia teriak yang suatanya -uhuk- merdu (gede subhanallah), semua orang yang dikelas langsung diam seribu kata, dan itu lah salah satu alasan dia di jadikan ketua kelas pas kelas 12 dulu.

Menurut aku juga dia itu ketua kelas terbaik sepanjang masa, kenapa?

Gatau

Selain itu, dulu dia juga sering antar jemput Nita.
Nita ini salah satu dari sekian 5 dari kami yang bisa dibilang ya dia pelawak lah, dia suka di bully juga karena berat badan yang sangat ideal (maaf, maksud saya sebaliknya) #maafkan kami Nita.

Walaupun sering dikatain (maaf) gend*ut, tapi dia selalu sabar dengan menjawab dengan jawaban yang baik.

Dia juga suka ngambekan, biasanya, kalau dia ngambek sih aku ga peduli, Nindi juga hahaha
maaf Nita.

Tapi disamping itu ada Yolanda yang takut kalau dia ngambek.

Hobi Nita itu makan, sekali kita liatin foto makanan, dia langsung gak bisa tidur sehari 3 malam karna kepikiran, sampe dia benar-benar kesampean makan, tapi cita-citanya sunggu mulia, apa coba?
Cita cita Nita itu kurus.
Sebagai teman yang baik juga aku selalu mendukung dia untuk menggapai cita citanya, setidaknya pas dia berdoa kita bantu jawab "amin"

Dia juga pinter nyanyi, tapi aku gak pernah liat dia nyayi di panggung :(
Tapi, tiap kita minjemin HP ke dia, pas balik ke kita, coba cek di rekaman suara.
Yang tadinya kosong, tiba tiba udah banyak rekaman dia nyanyi nyanyi sendiri.

Nita itu, serupa sama Rohani.
Rohani itu serupa sama Nita, dia juga suka ngelawak, suka kami bully, suka unyel unyel karna badannya kecil kaya cacing. Persis kaya cacing ditambah kepanasan.

Nah, Rohani pecicilan banget, gak bisa diam.
Dia juga suka nyanyi nyanyi gak jelas, untuk suaranya bagus.

Selama 3 tahun sekolah di SMA, hampir setiap hari juga kita dengerin dia nyanyi, dia juga sering duet sama Nita.

Aku ulang:
Tiap hari dengerin mereka nyanyi nyanyi gak jelas.
Kecuali mereka gak datang.
Nita nya gak muat
Yolanda ketutupan Nita

Baru sadar kita gak punya foto formasi lengkap ya?:(
Hayani & Hayati


Ya.. begitulah ceritanya.
Ntar ditambah kalau pengen ditambah.
Terimaksyiii

Sabtu, 21 April 2018

Gimana di SMA ? (Nindi)

Sesuai dengan apa yang udah aku bilang di artikel sebelumnya ...

Sejak kita duduk sebangku, kita jadi dekat, yang awalnya sama sama malu, sangking deketnya kita jadi malu-maluin, jadi gak tau malu juga, dari awalnya kita gak pernah cerita, akhirnya segala macam hal kita ceritain.

Kita cukup bisa menjaga rahasia, kalau aku pribadi jujur sih, asal ada cerita, dengan gampangnya aku cepat lupa, mungkin karena ini juga aku bisa menjaga cerita-cerita rahasia dari orang. KARNA CEPAT LUPA.


Kita kemana-mana berdua, ya gak, Nin?
Ke kantin berdua ...
Ke WC berdua, tapi yang satu jaga pintu.
Malam minggu kita berdua (dulu kita jones)
Nongkron tambah "G" berdua.
Gosipin orang berdua.
Chat berdua.
Entah kenapa kita bisa sering berdua, mungkin karena temen aku cuma dia satu, untung ada dia yang mau temenan. Kalau dia sih gatau kenapa, mungkin karena terpaksa.


Dulu, Nindi pernah naksir sama abang kelas, gara-gara itu kita jadi seriing lewat depan kelasnya pas mau kekantin, nggak berdua juga sih, kadang sama Nita, Yolanda, Rohani. Pernah juga pas lagi belajar kita modus mau ke kantin, padahal niat nya cuma mau liat abang kelas itu. hahaha

Mereka juga SMS-an.

Tapi, tidak disangka-sangka abang kelas yang bikin Nindi tak menentu itu, ternyata tiba-tiba chat gue lewat FACEBOOK (dulu masih jaman-jamannya FACEBOOK), trus abang kelasnya bilang kalau dia suka sama aku.

Woww...

Sebagai teman yang baik, aku langsung nolak, bukan sok kecantikan gitu, tapi emang gak suka, lagian gak mungkin aku suka sama gebetan temen sendiri.

Dan dengan itu juga, aku langsung cerita ke si Nindi...
"bla...bla...bla..." aku cerita sambil liatin isi chatnya.

Dan entah gimana akhirnya Nindi jadi gak suka lagi. (Good)


Karena sering berdua, kami jadi merasa kami ini layaknya anak kembar, tak terpisahkan, kita juga gak pernah berantem. Kalau ada salah satu yang marah, kita sama-sama gak peduli, akhirnya jadi baik sendiri.

Karena layaknya anak kembar, kami berinisiatif untuk mengganti nama panggilan menjadi"HAYATI" (aku) dan "HAYANI" (Nindi).
Nama panggilan itu hanya berlaku untuk pihak murid-murid aja, tidak untuk pihak para guru.

Sangking alaynya kami sampe bikin nama kita di semua tempat, di dinding sekolah, di meja, dikursi, dipapan tulis, di kalkulator masing-masing yang baru kita beli sama-sama, di balik sampul buku, dimana aja deh.
Biar apa kami tulis?
Jelas kami gak tau.

Selama tiga tahun di SMA juga, kami selalu duduk berdua.

Kalau lagi ulangan kami selalu berbagi, Nindi cari jawaban, aku menerima hasil.
Aku nyari contekan, Nindi yang menerima hasil.
Contoh :

Aku nanya.
"Nin, nomor 1 jawaban nya apa?" aku nanya lebih tepatnya berbisik
"A, 2 B, 3 D, dan seterusnya"

Nindi nanya.
"Ssttt...Sssttt.. Nomor 29 apaahhhh?"
"29? bentar ya aku cari dulu"
Secepat kilat aku nanya kesana-kesini.
Setelah tau jawabannya aku bisik lagi ke Nindi
"Nin, kalau si Polan jawabannya E, gimana?"
Terus Nindi baca lagi soalnya, menimbang-nimbang, mengira-ngira, setelah yakin dia bisik lagi
"Sssttt...Sssttt... Boleh, bikin aja jawabannya E"
Lalu setelah hasil jawabannya dibagi, nomor 29 itu SALAH.
Ya.. begitulah nasib.

Waktu ujian pun sebisa mungkin kami berbagi, sebisa mungkin kami diskusi melalui HP, karena kalau ujian kelas nya diacak, jadi kita duduknya sama adek atau abang kelas gitu.

Kita pernah gak pergi berdua, kapan?
Jadi, dulu setelah UN selesai, seperti biasa murid-murid merayakan.
Mereka pergi ke suatu tempat, terus di sana coret-coretan baju.

Dan aku yang bermental kerupuk ini, tidak ikut. Kenapa?
Karena takut dikejar polisi!!!
Padahal, kata mereka gak dikejar -___-
Sungguh sangat menyesal.
Tapi, aku gak mau kalah sama mereka, kalalu mereka cat baju, aku juga bisa. Ya biar gak nyesel-nyesel banget lah.
jadi kalau orang nanya, aku juga bisa jawab.
"Aku juga cat baju dirumah, sendiri. Tapi pake cat tembok biar keren."

tuhkan! Nongkrongnya berdua


Kalian pernah ikut merayakan?

Gimana Di SMA ?

Haii guys, para pembaca, para ... uhuk penggemar yang nggak nungguin cerita aku. Gapapa deh, lagian ceritanya juga nggak penting,
-nyesek-

Di hari Minggu yang (biasa aja) indah ini, enaknya bernostalgia gimana dulu di SMA.


Ada yang mau tau gimana aku bisa diterima di SMA ?
Ntar aku cerita (kalau ada yang nanya).
-tersenyum-



Waktu MOS, aku benar-benar merasa jadi orang yang konyol se-kelurahan, dimana kalian diharuskan make atribut-atribut yang udah ditentuin sama kakak kelas yang kece itu. Yang dimana pada waktu itu, orang yang cantik/ganteng jadi jelek, dan orang yang jelek semakin jelek. (jangan tanya aku cantik apa jelek)


Setelah MOS, proses belajar mengajar dimulai.
Sebagai anak SMA yang baik, aku udh niat dalam hati, harus belajar seserius mungkin.

Dulu waktu itu, kelas IPA dan IPS belum dibagi, dan aku kebagian dikelas 10-3 (kalau gak salah). Kebetulan aku sekelas dengan orang yang aku kenal, dan dulu ketua kelasnya itu namanya NINDI, dia cewe.

Singkat cerita, kelaspun dibagi, ternyata aku masuk ke IPA, temen sebangku aku IPS. Dan waktu itu pembagian kelas di umumin didepan ruang kepala sekolah.

Pada saat itu aku galau, tapi muka harus tetap COOL...
#dalam hati#
"Mampus, duduk sama siapa ini?"

"Gimana kalau gak ada temen?"

"Aduh, gimana kalau, gimana kalau, gimana kalau, gimana kalau... gitu aja terus sampe aku denger kalau nama NINDI (ketua kelas) itu sekelas sama aku.

"Wah, kesempatan nih!!"

Dengan inisiatif dan kerendahan hati, aku langsung bilang ke NINDI, yang kebetulan dirinya cuma beberapa senti doang.

"Eh, nanti duduk berdua ya? kita sekelaskan? duduk sama aku ya? ya? ya? ya? hehehe" aku nyengir sok akrab.

"Emmm, gimana ya? sambil mikir
3 tahun kemudian, dia pun akhirnya membuka suara
"Emm iya, iya boleh"

"YESS!!!, setidaknya gak cenga cengo ntar dikelas buat milih duduk sama siapa" dalam hati aku.

Pengumuman selesai, semua siswa dan siswi pun berlarian masuk kedalam kelas (buat milih posisi duduk yang aman dan favorit). Aku lupa waktu itu lari apa gak, yang jelas aku gak jauh-jauh lagi dari NINDI karna takut kehilangan. IYUWH!!!

Dikelas, aku dan Nindi duduk paling depan.
Kalian pasti tau, anak-anak yang duduk paling depan itu adalah ciri-ciri anak yang pinter, rajin, selalu mendengarkan guru.
Tapi tidak dengan aku, yang gak pernah masuk sekolah waktu SMP, pada saat guru menjelaskan, aku gak ngerti, akhirnya cuma bengong aja, dengan pasang muka seolah-olah mengerti, selama itu aku cuma jadi pendengar budiman, dikasih soal selalu nyontek. #anakteladan

Singkat cerita, setelah berapa lama sekolah akhirnya aku kenal dengan penghuni kelas, baik cewe maupun cowo. Disana ada Nindi, Yolanda, Nita, dan satu lagi ada Rohani, yang akan menjadi peran dicerita ini.

Kebetulan kita duduknya sebaris, jadi, aku dan Nindi didepan, belakangnya Nita sama Yolanda, dan dibelakang lagi Rohani, dia duduk sendiri dan terkucilkan. hahaha

Entah gimana kita bisa akrab, pokonya tiba-tiba saat aku sadar udah akrab aja sama mereka.

Nindi salah satu temen yang aku bilang paling mau direpotin sih, contohnya dulu kalau aku pertandingan, kalau ada tugas,dia dengan baik hati bikinin tugas aku, kalau aku izin, dia yang ngurus ke guru biar pas di absen nama aku ditulis dengan huruf "i", kalau ada tugas aku juga nyonteknya sama dia, Nindi ini bisa di bilang salah satu dikelas.
Pokonya kalau ceritain mereka tuh gak cukup satu artikel doang.


Kalian punya temen deket gak di SMA ?

Rabu, 18 April 2018

Balik Kampung

Nah, ini cerita aku pas balik dari Bandung yang udah aku ceritakan disini ...

Aku berangkat dari asrama ke bandara Internasional Husein Sastranegara itu pagi atau siang ya? Lupa! Kayanya siang.

Dari asrama aku diantar pake bus pribadi club, yang biasa dipake untuk keperluan atlet-atlet seperti antar atlet ketempat pertandingan, nganter kalau latihan diluar asrama gitu, sebagian temen-temen aku dan anak lantai 4 juga ikut nganter.

Sampe di bandara, aku perpisahan sedikit sama temen, ya ... nangis-nangisan lah, aslinya aku nggak mau nangis, mau sok tegar gitu, sok seterong ha ha ha

"Emeee, kamu baik-baik ya disana,sampe tujuan dengan slamat, jangan lupain kita ya, Mee." kata salah satu temenku, sambil nangis nangis, gak histeris sih, gak sampe kesurupan juga, biasa aja nangisnya.

"Iya, makasih ya." kataku sok tegar dengan menjawab seadanya karna nahan nangis, tapi nangis juga :(. Tapi nangisnya masih dalam kondisi"SOK COOL", padahal aslinya pengen nangis senangis-nangisnya kalau perlu sampe guling-guling di bandara.

Setelah perpisahan sedikit, aku pamitan masuk ke bandara sama pelatih.

Nah, selama perjalanan aku juga banyak diam, sepanjang jalan juga aku nahan nangis, wajarlah ya, namanya juga berpisah sama temen-temen yang selama itu udah lebih dari keluarga, susah senang bareng. Walau yang banyak susahnya sih...


Ngomong-ngomong, kampung aku itu di Aceh, maaf kalau sebelumnya aku lupa bilang darimana asal aku. Jadi, pesawat kami nggak langsung ke Aceh, Acehnya itu di Meulaboh, Meulabohnya itu di jalan Swadaya, Tau nggak? Tapi nggak penting juga sih kalau tau atau nggak tau.

Kami turun di Medan, gatau kenapa, karena yang pesan tiket juga pelatihku, jadinya aku ngikut aja.

Kami sampe di Medan itu kalau nggak salah udah malam, lalu memutuskan untuk langsung balik ke Aceh dengan mobil rental, cuma ada aku, pelatihku, bapak supir dan segala macam barang ada juga buah salak, banyak banget! Tapi nggak tau punya siapa, aku lupa nanya, mau minta tapi nggak berani

Di tengah-tengah perjalanan, ban mobil yang kami naik itu tiba-tiba aja bocor. Kondisinya ujan lebat dan malam sih tentunya, dihutan juga, pelatihku panik, bapak supir juga panik, karena aku dengar mereka ngobrol. Tapi aku enggak, tau kenapa? Aku juga nggak tau, yang pasti aku lebih memilih untuk tetap tidur didalam mobil, apalagi ujan-ujan, emang mendukung bangetkan untuk tidur.

Selama tidur, aku nggak sadar, nggak tau apa-apa karna pas aku buka mata udah sampe ... Aku juga nggak tau sampe dimana, karna nggak tau udah sampe dimana, aku tidur lagi, sesekali kami berhenti untuk makan, untuk sholat atau ke WC dan begitu seterusnya sampe pas aku buka mata, mobilnya udah sampe didepan rumahku. Yeeayyy!!!

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, delapan harrr... Eh Sorry, ini lagi ceritakan ya?

Jadi, awal sejak aku di Aceh, aku baik-baik aja, aku masih kangen-kangenan sama keluarga, sama Mama, Papa, Adik, Abang. Di ajakin jalan-jalan terus, katanya biar ingat lagi, kan udah lama nggak liat.
Yaelah ... dikira amnesia kali yak!

Memang sih, sejak pulang, aku nggak terlalu semangat lagi buat latihan, lalu tiba-tiba pelatihku SMS, nyuruh latihan, di semangatin lagi, dikasih motivasi-motivasi yang pada akhirnya aku kembali latihan dengan semangat. Eaakkk!!

Sejak saat itu juga kalau malam aku jadi suka galau, aku kacau, aku GEGANA (gelisah galau merana) dikamar sendirian, dengerin lagu sedih, kaya lagu Judika - Aku yang tersakiti, atau lagu Cakra Khan - Harus terpisah yang dulu lagi musim-musimnya, dimana-mana emang lagu itu, trus gonta-ganti foto profil BBM dengan segala quotes yang menggambarkan aku itu lagi galau, ada yang isi quotesnya gini:

"Aku ingin menangis didalam hujan, agar tak ada yang mengetahui aku sedang nangis" ceileee ... ha ha ha ha

Atau gini..
Cihuy nggak tuh?
Padahal nggak ada yang ngajakin bercanda juga

Dan yang ini dipasang biar ada yang nanyain "Sedih kenapa?"


 Aku galau bukan gara-gara diputusin pacar, lagian waktu itu juga nggak ada pacar juga sih. HEHE

Aku galau, gara-gara rindu sama asrama, sama anak-anaknya, sama Bandung, yang enggak sama latihannya, karna capek.

Kalau dipikir-pikir, nggak nyambung banget alasan kenapa aku galau sama lagu yang aku dengar.

Ahhh ... yang penting aku galau.

Aku juga pindah sekolah lagi ke Aceh, waktu itu aku kelas 3 SMP dan aku pindahnya ke salah satu Sekolah Swasta yang ada disini, yang anak-anaknya Subhanallah... nakal-nakal banget. Kalau kata Mama,
"Nggak papa lah kamu pindah sekolah disini, biar ntar mau legalisir ijazah nggak ribet harus di Bandung sana" padahal buat ngehibur aja.

Tapi, untungnya aku cuma sekolah bentar doang disitu, nggak sampe sebulan, karna mau UN.

Selanjutnya aku jadi biasa aja, udah nggak galau galau lagi, kegiatan aku juga sekolah sama latihan doang, karna aku emang nggak hoby main main keluar, nongkrong sama temen, bahkan aku juga nggak hafal jalan sangking sok anak rumahan gitu.

Setelah aku selesai UN, dan dinyatakan lulus.
Akhirnya apa?
Libur panjang dong, Yuhuuu~
Tapi selama libur aku dirumah doang, keluar palingan cuma latihan. hehe
Jadi apa yang mau dicerita ya?
Kaya nya nggak ada deh.
Skip aja deh..

.
.
.



Dan .... Jeng..Jeng....
Sampe akhirnya pendaftaran buat masuk SMA udah pada dibuka, waktu itu aku mendaftar di SMA 2 Negeri Meulaboh.

Jadi gini, berhubung aku udah ngantuk, aku pengen tidur dulu.
Cerita di SMA, nanti deh aku ceritain lagi ya, kalau kalian masih pada mau baca, kalau kalian nggak mau baca gimana? Gapapa, aku tetep cerita kok, ntar aku sendiri aja yang baca, atau aku paksa Adikku buat pura-pura baca..
Jadi, sekarang aku tidur dulu ya..
Dadahhh...
Terimakasih ya, udah mau-maunya baca sampe sini..
Aku senang ({})

Senin, 16 April 2018

Bandung dan Kenangan (Part 2)

Sebelumnya, seperti yang udah aku ceritakan disini, saat aku dan Bunda menuju asrama dengan menggunakan becak, kami tidak langsung turun didepan asrama, entah apa penyebab kami turun didepan gang asrama, aku lupa!! Memang jaraknya dekat,bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi dengan kondisi membawa barang yang berat, rasanya jarak dari depan gang ke asrama itu menjadi jauh dan pastinya melelahkan. Yang aku ingat sampai saat ini adalah ketika Bunda membantuku membawa koper yang berat yang dia letakkan diatas kepalanya. Ya, aku sudah pasti harus bersyukur bisa mengenal orang baik seperti Bunda. Terimakasih banyak Bunda, semoga Allah SWT selalu membalas kebaikan Bunda, Amin.

Aku masih ingat ketika pertama kalinya aku masuk ke asrama itu dengan diantar oleh pengurus club tersebut. Aku juga masih ingat bagaimana beratnya ketika aku harus mengangkat koper dan tas raket yang aku jinjing dibahu menuju kamarku yang ada dilantai 4.

Ketika sampai di lantai 4, Aku diarahkan kesebuah kamar, seingatku dilantai 4 itu asrama cewe dan cowo dipisah dengan sebuah tembok, jadi setengah untuk asrama cewe (ada 5 kamar), setengah nya lagi asrama cowo (ada 5 kamar), berbeda dengan lantai 3 disana hanya khusus cowo dan begitu juga dilantai 2 semuanya cewe. Tangga untuk menuju asrama cewe dan cowo juga dibedakan.

Didalam kamar, seperti asrama pada umumnya, ada 2 tempat tidur bertingkat 2, lemari, dan sebuah meja laci (sebut saja begitu, karena meja tersebut ada lacinya 4, he he he). Tidak ada kipas angin atau AC, mungkin cuaca di Bandung sudah cukup dingin, sehingga jika tidak ada kipas angin atau AC juga tidak akan kepanasan.

Di kamarku, hanya ada dua orang, aku sekamar dengan salah satu senior waktu itu. Saat itu hari sudah malam, aku lupa jam berapa, mungkin kira-kira jam 8. Dikamar, aku tidak banyak ngobrol dengan teman sekamarku, hanya berkenalan. Selain malu, jujur saja aku sedikit minder, mungkin itu baru pertama kalinya aku harus bergaul dengan orang kota dan aku hanya seorang anak dari daerah.

Tiba-tiba anak dari kamar lain masuk kekamarku, mereka lebih sebaya dengan aku daripada teman yang sekamar dengaku sekarang, sepertinya mereka baru selesai latihan karena saat itu mereka masih menjinjing tas raket dan baju mereka juga masih basah karena keringat. Mereka mengajakku berkenalan dari situ aku tau nama mereka Rania, Alwi, Agnia, Jeny, Kiky dan Nica. Dan ternyata mereka satu pelatih denganku saat latihan nanti, kecuali Kiky dan Nica, mereka beda pelatih denganku.

"Kamu pindah ke kamar kita aja, jangan disini, kita juga sekamar masih bertiga, kurang satu orang" kata Rania (saat itu dia sekamar dengan Nica dan Kiky).
"Emangnya nanti nggak dimarahin kalau pindah-pindah kamar?" tanyaku.
"Enggak, besok pagi kita pindahin barang kamu ya."
"Yakin nggakpapa?" Tanyaku takut karena aku masih anak baru.
"Nggakpapa kok" Rania meyakinkan.
"Yaudah kalau gitu boleh deh." Jawabku dengan sedikit ragu.
"Kamu udah makan? makan yuk?" Rania mengajakku makan kekantin yang ada didepan asrama.
"Aku udah makan tadi, masih kenyang he he." Aku menolak karena masih malu,padahal saat itu aku lapar.
"Yaudah aku mandi dulu ya, mau makan sama yang lain." Kata Rania.
"Oke Rania"

Saat itu aku sendiri dikamar, senior yang sekamar denganku udah pergi entah kemana saat teman-temanku masuk kamarku tadi. Disaat itu juga, diatas tempat tidur, tiba-tiba aku langsung teringat Mama yang menangis saat ngobrol denganku via telfon tadi, dan tanpa sadar aku sudah menangis, aku rindu Mama, Papa, Adik dan Abangku. Ketika itu juga aku nyesal karena tidak ngotot balik dulu ke kampung. 

Tiba-tiba senior yang sekamar denganku masuk kekamar, dan dengan cepat aku hapus air mataku, lalu aku pura-pura tidur, sampai akhirnyapun aku tertidur, karena saat aku buka mata tiba-tiba sudah pagi. ha ha ha

Pagi itu Rania datang ke kamarku dan mengajakku untuk segera memindahkan barang ke kamar mereka, akupun segera mengangkat barang yang belum aku bongkar semalam karena mengingat Rani mengajakku pindah kamar. Setelah memindahkan barang, kami langsung siap-siap untuk latihan, karena pagi itu memang jadwal kami untuk latihan.

Tidak berapa lama sejak aku pindah kamar, senior yang tadinya sekamar denganku, dikeluarkan dari club tersebut karena ada masalah. Begitulah, diclub tersebut memang diharuskan disiplin dan dijaga ketat oleh pengurusnya.

Sejak hari itu, aku mulai akrab dengan teman-temanku yang satu pelatih denganku, khusunya dengan anak-anak lantai 4, apalagi dengan teman sekamarku yaitu Rani, Nica dan Kiky. Mereka cukup akrab dan mereka juga non-muslim. Tapi mereka sangat menghargaiku. Pernah sekali ketika aku mau sholat, mereka tidak masuk kekamar, setelah aku selesai sholat mereka baru masuk kekamar.

Hari-hari berikutnya aku sudah akrab dengan teman-temanku, anak-anak yang tadinya lolos audisi juga mulai masuk asrama, sampai suatu saat Rania pindah kamar ke lantai 2, dan digantikan dengan teman yang lain yaitu Novi, saat itu, dia tidur sendiri dikamar yang ada didepan kamarku. Lalu tidak lama kemudian Kiky dan Nica juga pindah kamar, mungkin karena mereka beda pelatih dengan kami, dan mereka digantikan dengan teman yang lain yaitu Nia dan Kinan.

Aku, Nia, Novi dan Kinan satu pelatih, dan sekarang kami sekamar. Dengan merekalah aku lebih akrab. Maksudku, bukan berarti aku tidak akrab dengan Rania, Nica dan Kiky, hanya saja dengan mereka entah mengapa rasanya aku lebih nyaman.

Ohiya, sejak saat itu aku juga biasa di panggil "Eme", Novi di panggil "Rembo" dan waktu itu teman yang juga lolos audisi ada yang masuk asrama lagi yaitu Dewi, biasa kami panggil "Emak" dan Nisa, mereka sekamar dengan Alwi dan Jeni. Sebelumnya Agnia memutuskan untuk pulang kekampung, seingatku dia berhenti dan melanjutkan sekolah dikampungnya.

Sekamar Novi, Kinan dan Nia, cukup asyik, mungkin karena kami satu pelatih. Dulu, kalau mau makan dikantin kami sering turun berempat, atau kadang juga dengan anak-anak kamar yang lain juga. Awal sekamar dulu, kami juga kadang-kadang suka bertengkar kecil. Ya ... maklumlah, dulu kami hanya remaja yang masih labil, ha ha ha

Aku ingat pernah bertengkar dengan Nia cuma gara-gara aku nggak mau bagi buah mangga yang aku beli diwarung belakang asrama.
"Bagi dong Me mangganya" Pinta Nia berharap aku bagi.
"Tapi aku masih laper banget euy, kamu beli aja sendiri"
"Ihhh!!! Kamu mah DASAR PELIT!!" dengan muka kesal.
Aku cuma diam nggak peduliin Nia sambil terus memakan mangga.
Melihat aku tidak peduli, Nia makin ngambek. HA HA HA

Nggak berapa lama kemudian, Nia keluar beli seblak diwarung belakang (seblak itu salah satu makanan khas Bandung), aku nggak ikut, karena memang dia nggak ngajak, mungkin karena masih ngambek. Setelah kembali dari warung, Nia memakan seblaknya dikamar, terus aku minta seblaknya karna aku masih lapar dan malas turun tangga buat beli makanan lagi diwarung belakang. Memang benar, Nia memang masih kesal sama aku karna nggak mau bagi buah mangga yang tadi aku beli. Alhasil, dia ngomel-ngomel ke aku, aku ingat saat dia ngomel-ngomel dengan medok Jawanya yang khas. Mendengar Nia terus ngomel, aku malah ketawa, ha ha ha. Entah mengapa, mungkin memang lucu mendengar dia ngomel atau mungkin juga memang aku orang yang menyebalkan waktu itu. Setelah puas ngomel, Nia diam, aku juga diam, suasanapun hening, lalu tiba-tiba kami jadi ketawa sendiri, padahal nggak ada yang ngelawak, kami juga nggak tau kenapa bisa ketawa, dan setelah itu barulah Nia membagikan seblaknya.

HA HA HA... Aku merasa menang. Makasih Nia, maaf dulu aku ngeselin, hi hi

Dulu, kami sekamar juga sering nonton TV melalui HP Cina punya Nia. Padahal udah jam tidur, memang diasrama TVnya cuma ada di depan kamar kami, jadi kalau nonton harus rame-rame, dan jam 10 malam, semua atlet harus masuk kamar, biasanya suka ada satpam yang nngeronda buat ngecek atlet-atlet. Kalau udah ada satpam yang ngecek, biasanya kami pura-pura tidur.

Tiap malam Jumat kami juga suka dengerin Radio Ardan, yang nyiarin cerita-cerita serem, biasanya kami tidur dilantai semua kalau malam Jumat dan dengerin Radio Ardan. Jadi, kasur-kasurnya kami turunin ke lantai, karena pada takut tidur sendirian dikasur. ha ha

Pernah, pas Hari Ibu, kami galau-galauan gak jelas dikamar sambil dengerin lagu Bundanya by Melly Goeslaw. Jadi, jam 12 malam sebelum Hari Ibu itu, kami pada sedih karna kangen sama Induknya masing-masing. Kami juga pada ngucapin Selamat Hari Ibu, lewat HP tentunya. Aku sendiri sih nggak ngucapin, karena takut dimarahin Mama, kan udah tengah malam, trus Novi juga bilang sebenarnya dia nggak ngucapin "aku cuma sedih aja efek denger lagu Bunda" kata Novi.

Kadang-kadang kami juga suka liatin bintang-bintang dilangit, biar apa coba? ha ha ha
Jadi, di lantai 4 itu ada tempat buat jemur pakaiannya, diluar gitu. Nggak luas sih. Jadi kalau malam kami kadang suka gelarin tikar disitu, trus kita tiduran rame-rame sama anak-anak lantai 4 (cewe semua) sambil liat bulan dan bintang, sambil cerita nggak jelas gitu, curhat di marahin pelatihlah, sampe ujung-ujungnya galau juga rame-rame gara-gara cerita kangen keluarga. ALAY banget ya kita dulu, liatin bulan dan bintang ha ha ha. Tapi kangen :(


Kami juga pernah sok-sok an mau kulineran ke PVJ (salah satu mall di Bandung), kita perginya hari Minggu pagi, karna Minggu itu latihan diliburkan, waktu itu, kalau nggak salah masih awal bulan, jadi kita baru dikirimi uang jajan sama orangtua kita masing-masing. Nggak banyak, kalau nggak salah waktu itu aku cuma bawa uang 300 ribu doang. Dikamar, kami udah berekspetasi untuk makan semua yang ada di mall itu, semua mau kami beli, dan kami juga berencana untuk photo studio. Dengan semangat, kami langsung siap-siap.

Kalau biasanya kami pergi kemana-mana naik angkot, tapi karena pagi itu kami merasa sedang keren, jadi kami memutuskan untuk naik taksi. Padahal didalam taksi juga sempit-sempitan ha ha ha

Terus, pas udah sampe di mall, karena yang pertama kami lihat KFC, jadinya kami makan dulu disitu, itung-itung pemanasan. Kami juga memesan banyak menu, sesuai rencana "KULINERAN".

Dan tau apa yang terjadi? ha ha ha
Setelah makan di KFC dengan mesan banyak menu, kami jadi kekenyangan, uang kami juga udah pada abis, akhirnya rencana kulineran kami pun gagal total, cuma makan di KFC doang ha ha ha.

Akhirnya kami cuma muter-muter aja di mall, masuk toko, nyobain barangnya, foto-foto, tapi nggak beli. Lalu, kami pergi ke photo studio, abis itu pulang deh ha ha ha. Sok-sok an kulineran!!

Sama Kinan, yang masih ingat sampe sekarang, kami pernah pagi-pagi nyari sarapan keluar, itu pas hari Minggu, latihan diliburkan. Jadi dari asrama kami jalan kedepan gang, cuma pake celana pendek dan jaket latihan doang, muka kita juga dalam kondisi masih muka bantal, bener-bener baru bangun dan cuci muka sama sikat gigi doang, nggak MANDI. Nah, kita rencananya cuma nyari makan didepan gang aja karena biasanya disitu banyak orang yang jual makanan, tapi, entah kenapa hari itu pada tutup semua.
"Me, mau makan apa nih kita? pada tutup semua tau." Kata Kinan
"Gatau ih, yaudah kita naik angkot aja dulu, ntar dipikirin mau makan dimana." Kataku.
Alhasil kami naik angkot padahal nggak ada tujuan.
"Kemana nih?" tanya Kinan
"Kemana ya? bingung euy, Ohh ... atau enggak, kita ke IP aja, makan di KFC." Kataku ngawur, kebetulan angkot yang kami naiki tujuannya ke IP
"Ihh.. masa kesana, gembel banget tau, belum mandi." protes Kinan.
"Biarin we, yang penting kenyang, daripada nggaktau mau makan apa." Kataku.
"Ha ha ha, yaudahlah hayuk kalau gitu mah"
Akhirnya kami makan disana, dengan penampilan yang antah barantah, mandi aja belum :)

Ngomong-ngomong soal mandi, aku juga pernah sama Nia, waktu itu latihan subuh dan kami males mandi karena masih dingin banget.
"Nia, kamu mandi nggak? dingin banget ya?" Aku tanya ke Nia waktu jalan kekamar mandi.
"Nggaktau nih, dingin banget jadi males mandi, kamu? mandi nggak, Me?" Tanya Nia balik.
"Nggak usah mandi aja yuk? kita cuci muka sama gosok gigi aja, kan orang lain juga nggak tau kalau kita nggak mandi, yang tau kan cuma kita dan Allah, kita diem-diem aja" Kataku. ha ha ha (males banget ya?)
"Yaudah, Okelah kalau begitu, tapi bener ya, jangan bilang-bilang sama orang"
"Iyaa, Nia. Kan akunya juga nggak mandi, nanti kita pake parfum aja biar wangi, biar dikira orang-orang kita udah mandi"
"Ha ha ha kamu mah ada-ada aja Me, yaudah aku nggak mandi deh." Akhirnya Nia terhasut. Ha ha ha

Dulu, Nia juga bantuin aku nguncirin rambut aku, waktu aku baru-baru manjangin rambut, jadi dulu itu, yaa ... kalau kata orang sih kaya cowo, tomboy gitu, rambut aku juga pendek kaya cowo, jadi wajar aku nggak bisa nguncir rambut sendiri waktu itu. hi hi hi

Apalagi kalau latihan pagi atau kadang subuh, Nia harus bangun lebih awal buat nguncirin rambut aku, dia juga suka kesel kadang-kadang, tapi aku nggak peduli, yang penting aku rapi. Aku juga minta kuncir rambutnya Nia, jepit rambutnya dia juga aku minta, pernah sekali dia kesel
"Eme, kamu beli dong kuncir rambut, jangan minta mulu" katanya.
"Iya, ntar aku beli"
Tapi tetap, aku nggak beli. ha ha ha

Dikamar, aku emang lebih dekat dengan Nia, mungkin karena kami lebih sering berdua, curhat-curhatan berdua, kenyang berdua, lapar berdua. Pernah waktu itu jajan kami sama-sama udah abis, jadi kami beli makanan ke warung belakang, ngutang dulu, belinya sebungkus, makannya berdua, lauknya juga seingat aku cuma pakai telur dadar dan minumnya kami beli Teh Gelas.

Kamar kami, dulu, kami namai "Kamar Keramat", karena kami merasa kami berempat itu selalu senasib, kalau lagi susah, semua susah, kalau senang, semua senang, satu galau, yang lain pun akan nyusul galau, walau dengan penyebab yang berbeda, sampai-sampai satu berhenti dan pulang kampung, semua juga nyusul.

Ini bagian tersedih yang aku rasain, Kinan duluan yang berhenti dan balik ke Jakarta, dia memutuskan untuk sekolah di Jakarta. Lalu, nggak berapa lama Novi juga balik ke kampung dan sekolah. Saat itu, aku cuma berdua sama Nia sekamar. Sampai saat Nia juga berhenti dan pulang, akhirnya aku tinggal sendiri dikamar. Sempat sih agak lama aku bertahan, tapi lama-lama, aku mulai nggak betah, bukan karena sendiri dikamar, yang pasti masalah yang nggak bisa aku ceritain disini, saat itu juga orangtuaku nyuruh aku balik aja, karena waktu itu keadaan ekonomi keluarga yang sedang susah.

Akhirnya, saat aku sedang beristirahat dikamar sendiri, aku menimbang-nimbang niatku untuk balik ke kampung, dan aku memutuskan untuk balik ke kampung, langsung aku telfon Papa
"Assalamualaikum, Pa. Gimana kabar Papa? sehat?"
"Waalaikumsalam, sehat nak, kamu gimana? sehatkan?"
"Sehat, Pa."
"Ada apa nelfon nak? apa ada masalah?"
"Nggak ada, Pa. Papa..(aku diam, meyakinkan niatku untuk pulang)"
"Kenapa, Nak?"
"Pa, kalau aku balik aja gimana? boleh?"
"Kenapa, Nak? kamu udah nggak sanggup lagi? Tanya papa
"Bukan pa, sanggup, cuma pengen balik aja." Kataku
"Kalau kamu mau balik, yaudah, besok langsung kita urus, lagiankan Om (Pelatihku) juga lagi ada disana (memang pelatihku kebetulan lagi ada di Bandung mengurus pekerjaan, sekalian menjenguk aku dan anaknya yang latihan satu club denganku), bisa sekalian pulang nanti, biar Papa ngomong nanti sama Om, ya?" Kata papa
"Iya, Pa." Cuma itu yang bisa kujawab.
"Ada lagi Nak?"
"Enggak, Pa. Cuma itu aja."
"Yaudah, kalau gitu Papa telfon Om dulu ya, Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jujur saja, waktu itu aku antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang udah aku bilang ke Papa, bagiku, keputusan itu rasanya sangat berat, mengingat masuk ke club itu adalah cita-citaku dari dulu, cita-citaku yang ingin jadi atlet yang besar nantinya.
Yasudah, nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya.
Akhirnya, setelah pekerjaan pelatihku di Bandung selesai, aku pulang. Balik ke kampung halamanku.

Terimakasih Bandung, sudah memberi aku banyak pelajaran, disana aku belajar disiplin, aku belajar lebih menghargai orang-orang yang aku sayangi, disana juga aku mengerti betapa pentingnya persahabatan, disana juga aku belajar mandiri. Terimakasih sudah menjadikan aku orang yang lebih baik sebelumnya, sudah membuka pikiranku lebih luas. Terimakasih untuk semua yang ada di club itu, semuanya telah mengajariku banyak hal, memberiku banyak pengalaman.

Terimakasih semua teman-temanku...

Terimakasih udah memberikan aku kenangan yang seindah ini, dan tulisan ini, aku buat hanya untuk dikenang. Karena waktu akan membuat kita lupa, tapi menulis akan membantu kita untuk mengingatnya, dan aku juga nggak ingin untuk melupakan kenangan indah ini.

Terimakasih...

Minggu, 15 April 2018

Bandung dan Kenangan (Part 1)


“Dan Bandung bagiku bukan Cuma masalah geogafis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi”
-Pidi Baiq



Jadi, dulu aku pernah hidup di Bandung, Ngapain? "Numpang Boker qaqa:)"

Jadi, dulu aku pernah latihan di Bandung, Latihan apa? "Latihan Melupakannya qaqa:)"

Jadi, dulu tuh aku disana latihan bulutangkis. Iya, aku salah satu atlit bulutangkis yang gak jago jago banget lah, biasa aja, bukannya sok merendah buat meroket, bukan!! Tapi karna kenyataannya ya gitu ha ha ha.

Aku ke Bandung kalau enggak salah tahun 2011 diawal tahun, kira-kira sekitar bulan Maret atau bisa jadi bukan, karena aku lupa detailnya. Ya, pokoknya sekitaran segitulah

Jadi aku disana masuk club ya boleh dibilang club bulutangkis yang besarlah di Bandung, ciri-cirinya ya punya lapangan sendiri, ada 16 lapangan, ada asrama, kantin, pos satpam, tempat jemuran, ada tangga juga.

Ngomong-ngomong soal tangga, di asrama itu ada 4 lantai, dan kalian tau? nah, dulu itu, kamar aku ada dilantai 4. Bisa bayanginkan, mau latihan turun tangga dulu, itung-itung pemanasan, sampe di GOR pemanasan lagi, jadi di saat udah masuk sesi latihan, aku udah dalam kondisi yang prima dan gosong akibat pemanasan yang berlebihan. Garing ya? ha ha ha IYA 

Tapi, buat masuk ke club itu, nggak cuma asal masuk aja, kita harus seleksi dulu, dan peserta seleksinya tuh rameeee!!! Seleksinya 3 hari, kalau sekarang lebih dari 3 hari dan sekarang juga lebih ribet dan lebih ketat lagi pastinya

Setiap hari, setelah seleksi bakal ada pengumuman buat peserta peserta yang lewat, dan Alhamdulillah sampai hari ketiga aku lewat. Dulu, aku seleksi ditemenin sama pelatih, istrinya yang aku panggil "Bunda", sama anaknya juga, kalau nggak salah mereka sekalian ada urusan pekerjaan di Bandung
"Nak,itu pengumumannya udah mau ditempelin, yuk kita liat"
"Iya, bunda"

Tapi yang liat pengumumannya cuma si Bunda, karna rame banget dan desak desakan aku disuruh tunggu agak jauh dari papan pengumuman. Yang aku rasain cuma deg-degan, ada sedikit rasa pesimis karena aku berasal dari daerah, aku juga tidak berani untuk yakin bahwa aku bisa lewat, aku takut kecewa. Lalu aku liat Bunda datang mendekat dengan wajah senang
"Nak, kamu lewat nak, coba lihat, ada nama kamu distu" 
Aku bengong, antara percaya dan tidak
"Mana Bunda?"
"Itu, ayok kita lihat" 

Dan benar, nama itu memang ada. Susah untuk mengandaikan perasaan aku waktu itu, yang pasti aku benar-benar senang, dan jujur aja aku jadi senyum-senyum sendiri. Bunda langsung memberitahu suaminya, yaitu pelatihku  yang duduk dikursi menunggu kami.

Setelah itu, kami balik ke hotel untuk mengambil barangku, karna aku langsung masuk ke asrama. Sebenarnya aku bisa pulang dulu kerumah, tapi karena alasan menghemat biaya Bunda menyarankan agar aku langsung masuk asrama, dan orangtuaku juga setuju.

Selagi aku mengemaskan barang di hotel, aku di telfon Mama
"Hallo assalamualaikum, Ma"
"Waalaikumsalam, gimana? lewat audisinya" (Padahal pelatihku sudah membetitahu duluan tadi)
"Iya ma, Lewat"
"Alhamdulillah, jadi ni langsung masuk ke asramanya ya" (Suara mama pelan, seperti menahan nangis)
"Iya, ma. Tadi si Bunda ngomongnya gitu"
"Yaudah, hati-hati disana ya Nak, jaga diri baik-baik, jaga kesehatan. Selamat ya Nak lewat audisinya, udah jadi anak Bandung ya anak mama sekarang, udah jauh dari Mama" (Mama nangis)
Aku diam, dan seketika itu juga aku nangis. Jujur saja walaupun aku sudah biasa jauh dari orangtua karna sering ikut pertandingan, tapi, sulit untuk menjelaskan perasaanku waktu itu. Yang jelas aku sadar bahwa jarak aku dengan Mama itu jauh, dan aku langsung rindu Mama
"Hallo" (Mama memanggil, setelah selesai nangis)
"Iya, Ma"
"Jadi ini kamu mau ke asrama?"
"Iya ma, ini lagi beres-beres barang"
"Oh yaudah, nanti mama telfon lagi ya, salam sama Bunda, Assalamualaikum"
"Iya ma, Waalaikumsalam"


Aku langsung keluar dari kamar setelah membereskan barang, sudah ditunggu sama Bund a di depan hotel, aku ke asrama di antar oleh Bunda, naik becak. Ha ha ha
Iya, kami naik becak karna kebetulan jarak hotel dengan asrama tidak terlalu jauh. Sampai di asrama Bunda langsung bicara dengan pengurus club tersebut dan setelah itu aku langsung di antar kekamar. Sebelum pulang Bunda juga memberiku jajan dengan uang yang di titipkan orangtuaku. Setelah itu Bunda balik ke hotel dan aku tinggal di asrama.

Disinilah, awal cerita, awal perjuanganku, awal sebuah kenangan yang indah


BERSAMBUNG DI PART 2 ...

Sabtu, 14 April 2018

Blog Baru Dihari Sabtu

Sebelumnya, perkenalkan. Saya seorang anak dari 3 bersaudara, asal dari Aceh, seorang perempuan dengan, banyak yg bilang saya itu kaya cowo, ada yang bilang saya itu cantik, jika dibandingkan dengan dia, karna yang bilang gitu cowo. Ya saya harus menghargai pendapat dia, setidaknya dia jujur.

Dihari ini, Hari Sabtu tanggal 14 April tahun 2018, dengan cuaca yang sedikit dingin dikarenakan hujan sedari siang hari tadi, yang menyebabkan saya agak sedikit dingin dan dengan bantuan tenaga hotspot dari hape ibu saya yang saya panggil "mama" (sudah minta izin sama mama buat pakai hotspotnya ☺️), saya membuat blog ini dengan kesadaran yang penuh dan tekad bulat dalam hati dengan mata sedikit mengantuk karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.40 Waktu Indonesia Barat.

Tidak lama kemudian datanglah seekor kucing, kucing dengan warna kuning dan putih dengan mata penuh belekan, menghampiri saya, mengeong-ngeong tepat dibawah kaki saya. Entah minta makan, entah suruh tidur. Karena saya nggak ngerti bahasa binatang.

Tapi dia ngerti bahasa saya, ketika saya manggil dia datang, ketika saya ngasih makan dia datang, ketika saya makan dia juga datang, padahal saya nggak ngajak dia makan. Ketika saya mengeong dia juga mengeong, tapi saya nggak tau apa artinya.

Kucing ini (Ucing) namanya, kenapa dipanggil Ucing? Ya, gatau. Tiba-tiba orang rumah udah manggil Ucing aja, dia terlahir sebagai kucing jantan. Ucing saya temukan dipinggir jalan dengan tidak sengaja, lalu saya bawa kerumah. Setelah sampai dirumah, Ucing disuruh tidur diluar sama mama. Dengan penuh kesabaran Ucing nunggu didepan rumah. Dan ketika papa saya pulang dan melihat ada Ucing didepan rumah, beliau tidak tega dengan wajah Ucing yang sok memelas. Alhasil Ucing dibawa masuk kerumah.

Kalau kata adik saya Ucing itu ganjen, sukanya digendong sama cewek, Ucing juga suka membuntingi kucing betina diluar nikah. Pernah sekali Ucing membuntingi kucing dibawah umur dan menghasilkan anak diluar nikah. Dan Ucing dan istri tidak sahnya itu tidak mau mengurus anak mereka, Ucing malah membuang anaknya, yang saya temukan sudah mati dibalik rak sepatu.

           Ucing dan belekan dimatanya        

Maka dari ini, dengan perasaan yang sedikit mengantuk tapi senang, karena akhirnya blog ini jadi. Alhamdulillah.