Ini hari apa? Ohh...ini hari Senin. Tapi saya sedang
tidak kuliah. Kamu tau kenapa? Coba tebak? Ah... kamu pasti nggak tau ya? Biar
saya kasih tau, saya sedang libur kuliah. Libur kuliah yang disebabkan oleh
karena sedang libur semester, yaitu libur yang sudah ditetapkan oleh pihak
kampus yang dilaksanakan setelah dilaksanakannya UAS (Ujian Akhir Semester)
atau kata sebagian mahasiswa/i ‘Final’. Sekarang kamu sudah tau kan? Pasti
sudahlah, karena, kan sudah saya kasih tau. Kenapa saya kasih tau ya? Yaiyalah!
Kalau saya kasih kamu uang, nanti kamu senang terus kamu cerita ke orang-orang
kalau saya sedang membagi-bagi uang. Nggak boleh!! Riya!!!
Sore ini sudah jam 17.06
Yang
dimana didalam rumah yang bewarna putih itu, yang disalah satu dalam kamarnya
ada sebutir anak perempuan. Masih gadis dan mirip artis (tapi bohong).
Maksudnya saya bohong kalau itu... mirip artis... aslinya sih.. mirip bidadari.
Heyy!!!
Itu saya, tau!!
Saya lagi ditinggal sendiri dirumah. Disebabkan oleh
orangtua saya yaitu Papa tengah bekerja dikantornya. Ohh... bukan, tadi sudah
pulang, lalu pergi lagi untuk main tenis. Dimana? Pasti di lapangan tenis lah.
Kalau Mama tadi siang waktu saya lagi tidur siang, beliau sudah rapi-rapi. Mau
pergi katanya, rapat. Rapat bersama istri-istri karyawan yang juga bekerja di
kantor tempat Papa bekerja. Hebat sekali ibu rumah tangga sekarang pergi rapat
seperti pejabat. Ahh.. ternyata nggak perlu jadi pejabat untuk pergi rapat.
Ohiya, kamu penasaran nggak bagaimana saya bisa tau kalau
Mama pergi siang tadi waktu saya lagi tidur siang? Enggak?
Gapapa, saya ngasih tau buat yang penasaran saja, ya!
Saya tau Mama pergi tadi siang dikarenakan saya terbangun
oleh karena Mama masuk ke kamar untuk apa itu namanya? Ohh.. itu, untuk minta
parfum atau apa gitu yang ada di kamar saya dan dilayani oleh Adik saya.
Mama belum pulang jam segini. Woww!! Sepertinya rapat
yang sangat penting dan juga rumit. Rapat apakah ibu-ibu itu? Apakah rapat
untuk merencanakan bagaimana mengamankan bumi ini saat negara api menyerang?
Tapi itu kan hanya ada difilm Avatar saja. Atau ingin membantu para penegak
hukum untuk menentukan siapa yang salah disidang kasus Jesica dan Mirna,
ituloh.. kasus Ice Coffe Vietnam, ya? Yang dimasukin ‘sianida’ ke kopinya.
Tapi, itu kan sudah selesai? Ahh.. nanti saja lah saya tanya.
Sedangkan Adik saya tadi siang setelah pulang sekolah
juga pergi. Harus gitu,, dibilang setelah pulang sekolah agar tidak disangka
bolos. Adik saya pergi kemana? Nah.. dia pergi untuk mencari bibit sayur Bayam,
Wortel dan Tomat, katanya.
“Ngapain nyari bibit itu? Emang mau berkebun di sekolah?”
Saya nanya sambil makan nasi tadi siang, setelah bangun, saya makan sambil
duduk di sofa depan TV. Harus gitu.. dibilang setelah bangun biar tidak
disangka makan sambil tidur. Dan ya... jangan dicontoh berbicara saat makan
itu.
“Nggak tau, Guru nya nyuruh. Tugas” Adik saya menjawab,
terus dia malah nanya. “Di rumah kita ada pupuk nggak?”. Hahh? Ngapain dia
nanya pupuk?
“Itu... coba liat didepan yang didalam karung beras itu”.
Maksud saya depan itu = halaman, karung beras itu adalah karung beras bekas
yang biasa diisi pupuk sama orang yang jual pupuk yang sesekali lewat depan
rumah.
Lalu Adik saya ke dapur. Loh? Ngapain? Apa hubungannya?
Ohh.. ternyata dia ambil kresek (kantong plastik) untuk dimasukkannya pupuk
itu. Lalu dia keluar.
Astagfirullah!!!
Astagfirullah!!! Astagfirullah!!! Saya belum sholat Ashar! Sebentar, ya. 5
menit saja + 1 menit. OKE ??
***
*13
menit kemudian*
Nah..
setelah Adik saya itu keluar, tidak berapa lama dia masuk lagi.
“Sial!!
kirain pupuk!! Udah capek dibongkar, Ehh.. isinya tanah biasa”
“Ha..Ha..Ha..”
Kalau
kamu tidak tau, itu saya lagi ketawa. Terus saya nanya ke dia, dia yang saya
maksud disini adalah Adik saya.
“Emang
untuk apa sih? Bibitnya? Kenapa bukan sayur yang sudah jadi saja? Kan, banyak
dipasar, kalau bibitnya kan, harus nunggu lama lagi.” Maksud saya kalau dengan
bibit, kan harus menunggu waktu yang lama untuk jadi sayur yang bisa dimakan.
“Gak
tau, disuruh. Aku juga gak ngerti sebenarnya, pokoknya disuruh cari saja.”
Terus Adik saya naik ke atas motornya. Belum... Adik saya belum pergi. Dia
menelpon temannya dulu, mungkin janjian. Setelah itu baru dia pergi, pergi yang
menyebabkan saya sekarang tinggal seorang diri di rumah. Ohh.. sebenarnya tidak
sendiri, kalau kata Pidi baiq sih, ada malaikatnya. Maksud saya sendiri adalah
tidak ada manusia lain selain saya.
Ohh..
Ibu Guru... Sebenarnya untuk apa bibit itu? Apakah untuk bertani? Tapi, kan
seharusnya Adik saya sekolah? Ohh.. mungkin engkau ingin mengajarkan bahwa
menanam itu perlu. Menanam pohon. Tapi kau memilih bibit sayuran agar bisa
dipetik hasilnya. Apakah nanti setelah bibit itu tumbuh dewasa bisa disebut
“Pohon Tomat?” atau “Pohon Wortel?” atau juga “Pohon Bayam?” Ahh.. itu bukan jadi
masalah, bukan? Manusia saja bisa dinamai ‘Ahmad’, ‘Yani’, atau bisa juga
digabung yang akan menjadi ;Ahmad Yani’. Itu nama manusia atau nama jalan?
Apakah
perlu menanam? Mengingat di tempat kita sekarang, bumi kita ini, planet kita
yang sudah kita huni, kita tinggali tapi malah kita rusak ini, yang dimana
sebelumnya dimana-mana pohon, dimana-mana hutan, dimana-mana hijau. Ehh..
sekarang tembok lebih subur daripada pohon. Yang menyebabkan orang-orang
mencari udara segar. Bayangkan, udara segar saja harus dicari. Apakah dimasa
depan nanti oksigen juga harus dicari?
Atau
kau ingin mengajari cara menanam yang baik dan benar? Agar nantinya mendapat
hasil yang juga baik dan benar pula? Kan, katanya ‘Usaha Tidak Mengkhianati
Hasil’ kalau usaha menanamnya bagus, pastilah kita memetik yang bagus pula
nantinya. Betul tidak? Bagaimana kalau tidak ada buahnya? Petik saja daunnya,
atau bunganya. Kan, bunga mawar juga tidak berbuah. Gak harus buah, kan? Jangan
fokus ke satu tujuan, sedangkan disekitarmu lebih banyak tujuan yang lebih baik
lagi jika kamu lebih membuka mata. Bagaimana, Bu Guru? Apakah itu? Tujuan nya?
Entahlah...
itu sih, terserah Bu Guru sajalah, ya? Kan, dia Gurunya. Murid hanya mengikuti
perintah Guru. Seperti bos dan anak buahnya.
Ehh...
Mama saya sudah pulang. Yasudah, saya keluar kamar dulu, mau ngecek Mama bawa
makanan atau tidak. Sudah, jangan ditunggu ceritanya, karena saya sudah selesai
bercerita. Nanti lagi bacanya, kalau sudah ada cerita baru.
Salam
Sayang
Wasalam
Di kamar dan sedirian, 23 Juli 2018 (sedang tidak
hujan)
