Get me outta here!

Sabtu, 28 Juli 2018

BIBIT SAYUR YANG TAK DIMENGERTI


            Ini hari apa? Ohh...ini hari Senin. Tapi saya sedang tidak kuliah. Kamu tau kenapa? Coba tebak? Ah... kamu pasti nggak tau ya? Biar saya kasih tau, saya sedang libur kuliah. Libur kuliah yang disebabkan oleh karena sedang libur semester, yaitu libur yang sudah ditetapkan oleh pihak kampus yang dilaksanakan setelah dilaksanakannya UAS (Ujian Akhir Semester) atau kata sebagian mahasiswa/i ‘Final’. Sekarang kamu sudah tau kan? Pasti sudahlah, karena, kan sudah saya kasih tau. Kenapa saya kasih tau ya? Yaiyalah! Kalau saya kasih kamu uang, nanti kamu senang terus kamu cerita ke orang-orang kalau saya sedang membagi-bagi uang. Nggak boleh!! Riya!!!
            Sore ini sudah jam 17.06
Yang dimana didalam rumah yang bewarna putih itu, yang disalah satu dalam kamarnya ada sebutir anak perempuan. Masih gadis dan mirip artis (tapi bohong). Maksudnya saya bohong kalau itu... mirip artis... aslinya sih.. mirip bidadari.
            Heyy!!!
            Itu saya, tau!!
            Saya lagi ditinggal sendiri dirumah. Disebabkan oleh orangtua saya yaitu Papa tengah bekerja dikantornya. Ohh... bukan, tadi sudah pulang, lalu pergi lagi untuk main tenis. Dimana? Pasti di lapangan tenis lah. Kalau Mama tadi siang waktu saya lagi tidur siang, beliau sudah rapi-rapi. Mau pergi katanya, rapat. Rapat bersama istri-istri karyawan yang juga bekerja di kantor tempat Papa bekerja. Hebat sekali ibu rumah tangga sekarang pergi rapat seperti pejabat. Ahh.. ternyata nggak perlu jadi pejabat untuk pergi rapat.
            Ohiya, kamu penasaran nggak bagaimana saya bisa tau kalau Mama pergi siang tadi waktu saya lagi tidur siang? Enggak?
            Gapapa, saya ngasih tau buat yang penasaran saja, ya!
            Saya tau Mama pergi tadi siang dikarenakan saya terbangun oleh karena Mama masuk ke kamar untuk apa itu namanya? Ohh.. itu, untuk minta parfum atau apa gitu yang ada di kamar saya dan dilayani oleh Adik saya.
            Mama belum pulang jam segini. Woww!! Sepertinya rapat yang sangat penting dan juga rumit. Rapat apakah ibu-ibu itu? Apakah rapat untuk merencanakan bagaimana mengamankan bumi ini saat negara api menyerang? Tapi itu kan hanya ada difilm Avatar saja. Atau ingin membantu para penegak hukum untuk menentukan siapa yang salah disidang kasus Jesica dan Mirna, ituloh.. kasus Ice Coffe Vietnam, ya? Yang dimasukin ‘sianida’ ke kopinya. Tapi, itu kan sudah selesai? Ahh.. nanti saja lah saya tanya.
            Sedangkan Adik saya tadi siang setelah pulang sekolah juga pergi. Harus gitu,, dibilang setelah pulang sekolah agar tidak disangka bolos. Adik saya pergi kemana? Nah.. dia pergi untuk mencari bibit sayur Bayam, Wortel dan Tomat, katanya.
            “Ngapain nyari bibit itu? Emang mau berkebun di sekolah?” Saya nanya sambil makan nasi tadi siang, setelah bangun, saya makan sambil duduk di sofa depan TV. Harus gitu.. dibilang setelah bangun biar tidak disangka makan sambil tidur. Dan ya... jangan dicontoh berbicara saat makan itu.
            “Nggak tau, Guru nya nyuruh. Tugas” Adik saya menjawab, terus dia malah nanya. “Di rumah kita ada pupuk nggak?”. Hahh? Ngapain dia nanya pupuk?
            “Itu... coba liat didepan yang didalam karung beras itu”. Maksud saya depan itu = halaman, karung beras itu adalah karung beras bekas yang biasa diisi pupuk sama orang yang jual pupuk yang sesekali lewat depan rumah.
            Lalu Adik saya ke dapur. Loh? Ngapain? Apa hubungannya? Ohh.. ternyata dia ambil kresek (kantong plastik) untuk dimasukkannya pupuk itu. Lalu dia keluar.
Astagfirullah!!! Astagfirullah!!! Astagfirullah!!! Saya belum sholat Ashar! Sebentar, ya. 5 menit saja + 1 menit. OKE ??

***
*13 menit kemudian*
Nah.. setelah Adik saya itu keluar, tidak berapa lama dia masuk lagi.
“Sial!! kirain pupuk!! Udah capek dibongkar, Ehh.. isinya tanah biasa”
“Ha..Ha..Ha..”
Kalau kamu tidak tau, itu saya lagi ketawa. Terus saya nanya ke dia, dia yang saya maksud disini adalah Adik saya.
“Emang untuk apa sih? Bibitnya? Kenapa bukan sayur yang sudah jadi saja? Kan, banyak dipasar, kalau bibitnya kan, harus nunggu lama lagi.” Maksud saya kalau dengan bibit, kan harus menunggu waktu yang lama untuk jadi sayur yang bisa dimakan.
“Gak tau, disuruh. Aku juga gak ngerti sebenarnya, pokoknya disuruh cari saja.” Terus Adik saya naik ke atas motornya. Belum... Adik saya belum pergi. Dia menelpon temannya dulu, mungkin janjian. Setelah itu baru dia pergi, pergi yang menyebabkan saya sekarang tinggal seorang diri di rumah. Ohh.. sebenarnya tidak sendiri, kalau kata Pidi baiq sih, ada malaikatnya. Maksud saya sendiri adalah tidak ada manusia lain selain saya.
Ohh.. Ibu Guru... Sebenarnya untuk apa bibit itu? Apakah untuk bertani? Tapi, kan seharusnya Adik saya sekolah? Ohh.. mungkin engkau ingin mengajarkan bahwa menanam itu perlu. Menanam pohon. Tapi kau memilih bibit sayuran agar bisa dipetik hasilnya. Apakah nanti setelah bibit itu tumbuh dewasa bisa disebut “Pohon Tomat?” atau “Pohon Wortel?” atau juga “Pohon Bayam?” Ahh.. itu bukan jadi masalah, bukan? Manusia saja bisa dinamai ‘Ahmad’, ‘Yani’, atau bisa juga digabung yang akan menjadi ;Ahmad Yani’. Itu nama manusia atau nama jalan?
Apakah perlu menanam? Mengingat di tempat kita sekarang, bumi kita ini, planet kita yang sudah kita huni, kita tinggali tapi malah kita rusak ini, yang dimana sebelumnya dimana-mana pohon, dimana-mana hutan, dimana-mana hijau. Ehh.. sekarang tembok lebih subur daripada pohon. Yang menyebabkan orang-orang mencari udara segar. Bayangkan, udara segar saja harus dicari. Apakah dimasa depan nanti oksigen juga harus dicari?
Atau kau ingin mengajari cara menanam yang baik dan benar? Agar nantinya mendapat hasil yang juga baik dan benar pula? Kan, katanya ‘Usaha Tidak Mengkhianati Hasil’ kalau usaha menanamnya bagus, pastilah kita memetik yang bagus pula nantinya. Betul tidak? Bagaimana kalau tidak ada buahnya? Petik saja daunnya, atau bunganya. Kan, bunga mawar juga tidak berbuah. Gak harus buah, kan? Jangan fokus ke satu tujuan, sedangkan disekitarmu lebih banyak tujuan yang lebih baik lagi jika kamu lebih membuka mata. Bagaimana, Bu Guru? Apakah itu? Tujuan nya?
Entahlah... itu sih, terserah Bu Guru sajalah, ya? Kan, dia Gurunya. Murid hanya mengikuti perintah Guru. Seperti bos dan anak buahnya.
Ehh... Mama saya sudah pulang. Yasudah, saya keluar kamar dulu, mau ngecek Mama bawa makanan atau tidak. Sudah, jangan ditunggu ceritanya, karena saya sudah selesai bercerita. Nanti lagi bacanya, kalau sudah ada cerita baru.
Salam Sayang
Wasalam


Di kamar dan sedirian, 23 Juli 2018 (sedang tidak hujan)



0 komentar:

Posting Komentar