Sebelumnya, seperti yang udah aku ceritakan disini, saat aku dan Bunda menuju asrama dengan menggunakan becak, kami tidak langsung turun didepan asrama, entah apa penyebab kami turun didepan gang asrama, aku lupa!! Memang jaraknya dekat,bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tapi dengan kondisi membawa barang yang berat, rasanya jarak dari depan gang ke asrama itu menjadi jauh dan pastinya melelahkan. Yang aku ingat sampai saat ini adalah ketika Bunda membantuku membawa koper yang berat yang dia letakkan diatas kepalanya. Ya, aku sudah pasti harus bersyukur bisa mengenal orang baik seperti Bunda. Terimakasih banyak Bunda, semoga Allah SWT selalu membalas kebaikan Bunda, Amin.
Aku masih ingat ketika pertama kalinya aku masuk ke asrama itu dengan diantar oleh pengurus club tersebut. Aku juga masih ingat bagaimana beratnya ketika aku harus mengangkat koper dan tas raket yang aku jinjing dibahu menuju kamarku yang ada dilantai 4.
Ketika sampai di lantai 4, Aku diarahkan kesebuah kamar, seingatku dilantai 4 itu asrama cewe dan cowo dipisah dengan sebuah tembok, jadi setengah untuk asrama cewe (ada 5 kamar), setengah nya lagi asrama cowo (ada 5 kamar), berbeda dengan lantai 3 disana hanya khusus cowo dan begitu juga dilantai 2 semuanya cewe. Tangga untuk menuju asrama cewe dan cowo juga dibedakan.
Didalam kamar, seperti asrama pada umumnya, ada 2 tempat tidur bertingkat 2, lemari, dan sebuah meja laci (sebut saja begitu, karena meja tersebut ada lacinya 4, he he he). Tidak ada kipas angin atau AC, mungkin cuaca di Bandung sudah cukup dingin, sehingga jika tidak ada kipas angin atau AC juga tidak akan kepanasan.
Di kamarku, hanya ada dua orang, aku sekamar dengan salah satu senior waktu itu. Saat itu hari sudah malam, aku lupa jam berapa, mungkin kira-kira jam 8. Dikamar, aku tidak banyak ngobrol dengan teman sekamarku, hanya berkenalan. Selain malu, jujur saja aku sedikit minder, mungkin itu baru pertama kalinya aku harus bergaul dengan orang kota dan aku hanya seorang anak dari daerah.
Tiba-tiba anak dari kamar lain masuk kekamarku, mereka lebih sebaya dengan aku daripada teman yang sekamar dengaku sekarang, sepertinya mereka baru selesai latihan karena saat itu mereka masih menjinjing tas raket dan baju mereka juga masih basah karena keringat. Mereka mengajakku berkenalan dari situ aku tau nama mereka Rania, Alwi, Agnia, Jeny, Kiky dan Nica. Dan ternyata mereka satu pelatih denganku saat latihan nanti, kecuali Kiky dan Nica, mereka beda pelatih denganku.
"Kamu pindah ke kamar kita aja, jangan disini, kita juga sekamar masih bertiga, kurang satu orang" kata Rania (saat itu dia sekamar dengan Nica dan Kiky).
"Emangnya nanti nggak dimarahin kalau pindah-pindah kamar?" tanyaku.
"Enggak, besok pagi kita pindahin barang kamu ya."
"Yakin nggakpapa?" Tanyaku takut karena aku masih anak baru.
"Nggakpapa kok" Rania meyakinkan.
"Yaudah kalau gitu boleh deh." Jawabku dengan sedikit ragu.
"Kamu udah makan? makan yuk?" Rania mengajakku makan kekantin yang ada didepan asrama.
"Aku udah makan tadi, masih kenyang he he." Aku menolak karena masih malu,padahal saat itu aku lapar.
"Yaudah aku mandi dulu ya, mau makan sama yang lain." Kata Rania.
"Oke Rania"
Saat itu aku sendiri dikamar, senior yang sekamar denganku udah pergi entah kemana saat teman-temanku masuk kamarku tadi. Disaat itu juga, diatas tempat tidur, tiba-tiba aku langsung teringat Mama yang menangis saat ngobrol denganku via telfon tadi, dan tanpa sadar aku sudah menangis, aku rindu Mama, Papa, Adik dan Abangku. Ketika itu juga aku nyesal karena tidak ngotot balik dulu ke kampung.
Tiba-tiba senior yang sekamar denganku masuk kekamar, dan dengan cepat aku hapus air mataku, lalu aku pura-pura tidur, sampai akhirnyapun aku tertidur, karena saat aku buka mata tiba-tiba sudah pagi. ha ha ha
Pagi itu Rania datang ke kamarku dan mengajakku untuk segera memindahkan barang ke kamar mereka, akupun segera mengangkat barang yang belum aku bongkar semalam karena mengingat Rani mengajakku pindah kamar. Setelah memindahkan barang, kami langsung siap-siap untuk latihan, karena pagi itu memang jadwal kami untuk latihan.
Tidak berapa lama sejak aku pindah kamar, senior yang tadinya sekamar denganku, dikeluarkan dari club tersebut karena ada masalah. Begitulah, diclub tersebut memang diharuskan disiplin dan dijaga ketat oleh pengurusnya.
Tidak berapa lama sejak aku pindah kamar, senior yang tadinya sekamar denganku, dikeluarkan dari club tersebut karena ada masalah. Begitulah, diclub tersebut memang diharuskan disiplin dan dijaga ketat oleh pengurusnya.
Sejak hari itu, aku mulai akrab dengan teman-temanku yang satu pelatih denganku, khusunya dengan anak-anak lantai 4, apalagi dengan teman sekamarku yaitu Rani, Nica dan Kiky. Mereka cukup akrab dan mereka juga non-muslim. Tapi mereka sangat menghargaiku. Pernah sekali ketika aku mau sholat, mereka tidak masuk kekamar, setelah aku selesai sholat mereka baru masuk kekamar.
Hari-hari berikutnya aku sudah akrab dengan teman-temanku, anak-anak yang tadinya lolos audisi juga mulai masuk asrama, sampai suatu saat Rania pindah kamar ke lantai 2, dan digantikan dengan teman yang lain yaitu Novi, saat itu, dia tidur sendiri dikamar yang ada didepan kamarku. Lalu tidak lama kemudian Kiky dan Nica juga pindah kamar, mungkin karena mereka beda pelatih dengan kami, dan mereka digantikan dengan teman yang lain yaitu Nia dan Kinan.
Aku, Nia, Novi dan Kinan satu pelatih, dan sekarang kami sekamar. Dengan merekalah aku lebih akrab. Maksudku, bukan berarti aku tidak akrab dengan Rania, Nica dan Kiky, hanya saja dengan mereka entah mengapa rasanya aku lebih nyaman.
Ohiya, sejak saat itu aku juga biasa di panggil "Eme", Novi di panggil "Rembo" dan waktu itu teman yang juga lolos audisi ada yang masuk asrama lagi yaitu Dewi, biasa kami panggil "Emak" dan Nisa, mereka sekamar dengan Alwi dan Jeni. Sebelumnya Agnia memutuskan untuk pulang kekampung, seingatku dia berhenti dan melanjutkan sekolah dikampungnya.
Sekamar Novi, Kinan dan Nia, cukup asyik, mungkin karena kami satu pelatih. Dulu, kalau mau makan dikantin kami sering turun berempat, atau kadang juga dengan anak-anak kamar yang lain juga. Awal sekamar dulu, kami juga kadang-kadang suka bertengkar kecil. Ya ... maklumlah, dulu kami hanya remaja yang masih labil, ha ha ha
Aku ingat pernah bertengkar dengan Nia cuma gara-gara aku nggak mau bagi buah mangga yang aku beli diwarung belakang asrama.
"Bagi dong Me mangganya" Pinta Nia berharap aku bagi.
"Tapi aku masih laper banget euy, kamu beli aja sendiri"
"Ihhh!!! Kamu mah DASAR PELIT!!" dengan muka kesal.
Aku cuma diam nggak peduliin Nia sambil terus memakan mangga.
Melihat aku tidak peduli, Nia makin ngambek. HA HA HA
Nggak berapa lama kemudian, Nia keluar beli seblak diwarung belakang (seblak itu salah satu makanan khas Bandung), aku nggak ikut, karena memang dia nggak ngajak, mungkin karena masih ngambek. Setelah kembali dari warung, Nia memakan seblaknya dikamar, terus aku minta seblaknya karna aku masih lapar dan malas turun tangga buat beli makanan lagi diwarung belakang. Memang benar, Nia memang masih kesal sama aku karna nggak mau bagi buah mangga yang tadi aku beli. Alhasil, dia ngomel-ngomel ke aku, aku ingat saat dia ngomel-ngomel dengan medok Jawanya yang khas. Mendengar Nia terus ngomel, aku malah ketawa, ha ha ha. Entah mengapa, mungkin memang lucu mendengar dia ngomel atau mungkin juga memang aku orang yang menyebalkan waktu itu. Setelah puas ngomel, Nia diam, aku juga diam, suasanapun hening, lalu tiba-tiba kami jadi ketawa sendiri, padahal nggak ada yang ngelawak, kami juga nggak tau kenapa bisa ketawa, dan setelah itu barulah Nia membagikan seblaknya.
HA HA HA... Aku merasa menang. Makasih Nia, maaf dulu aku ngeselin, hi hi
Dulu, kami sekamar juga sering nonton TV melalui HP Cina punya Nia. Padahal udah jam tidur, memang diasrama TVnya cuma ada di depan kamar kami, jadi kalau nonton harus rame-rame, dan jam 10 malam, semua atlet harus masuk kamar, biasanya suka ada satpam yang nngeronda buat ngecek atlet-atlet. Kalau udah ada satpam yang ngecek, biasanya kami pura-pura tidur.
Tiap malam Jumat kami juga suka dengerin Radio Ardan, yang nyiarin cerita-cerita serem, biasanya kami tidur dilantai semua kalau malam Jumat dan dengerin Radio Ardan. Jadi, kasur-kasurnya kami turunin ke lantai, karena pada takut tidur sendirian dikasur. ha ha
Pernah, pas Hari Ibu, kami galau-galauan gak jelas dikamar sambil dengerin lagu Bundanya by Melly Goeslaw. Jadi, jam 12 malam sebelum Hari Ibu itu, kami pada sedih karna kangen sama Induknya masing-masing. Kami juga pada ngucapin Selamat Hari Ibu, lewat HP tentunya. Aku sendiri sih nggak ngucapin, karena takut dimarahin Mama, kan udah tengah malam, trus Novi juga bilang sebenarnya dia nggak ngucapin "aku cuma sedih aja efek denger lagu Bunda" kata Novi.
Kadang-kadang kami juga suka liatin bintang-bintang dilangit, biar apa coba? ha ha ha
Jadi, di lantai 4 itu ada tempat buat jemur pakaiannya, diluar gitu. Nggak luas sih. Jadi kalau malam kami kadang suka gelarin tikar disitu, trus kita tiduran rame-rame sama anak-anak lantai 4 (cewe semua) sambil liat bulan dan bintang, sambil cerita nggak jelas gitu, curhat di marahin pelatihlah, sampe ujung-ujungnya galau juga rame-rame gara-gara cerita kangen keluarga. ALAY banget ya kita dulu, liatin bulan dan bintang ha ha ha. Tapi kangen :(
Kami juga pernah sok-sok an mau kulineran ke PVJ (salah satu mall di Bandung), kita perginya hari Minggu pagi, karna Minggu itu latihan diliburkan, waktu itu, kalau nggak salah masih awal bulan, jadi kita baru dikirimi uang jajan sama orangtua kita masing-masing. Nggak banyak, kalau nggak salah waktu itu aku cuma bawa uang 300 ribu doang. Dikamar, kami udah berekspetasi untuk makan semua yang ada di mall itu, semua mau kami beli, dan kami juga berencana untuk photo studio. Dengan semangat, kami langsung siap-siap.
Kalau biasanya kami pergi kemana-mana naik angkot, tapi karena pagi itu kami merasa sedang keren, jadi kami memutuskan untuk naik taksi. Padahal didalam taksi juga sempit-sempitan ha ha ha
Terus, pas udah sampe di mall, karena yang pertama kami lihat KFC, jadinya kami makan dulu disitu, itung-itung pemanasan. Kami juga memesan banyak menu, sesuai rencana "KULINERAN".
Dan tau apa yang terjadi? ha ha ha
Setelah makan di KFC dengan mesan banyak menu, kami jadi kekenyangan, uang kami juga udah pada abis, akhirnya rencana kulineran kami pun gagal total, cuma makan di KFC doang ha ha ha.
Akhirnya kami cuma muter-muter aja di mall, masuk toko, nyobain barangnya, foto-foto, tapi nggak beli. Lalu, kami pergi ke photo studio, abis itu pulang deh ha ha ha. Sok-sok an kulineran!!
Sama Kinan, yang masih ingat sampe sekarang, kami pernah pagi-pagi nyari sarapan keluar, itu pas hari Minggu, latihan diliburkan. Jadi dari asrama kami jalan kedepan gang, cuma pake celana pendek dan jaket latihan doang, muka kita juga dalam kondisi masih muka bantal, bener-bener baru bangun dan cuci muka sama sikat gigi doang, nggak MANDI. Nah, kita rencananya cuma nyari makan didepan gang aja karena biasanya disitu banyak orang yang jual makanan, tapi, entah kenapa hari itu pada tutup semua.
"Me, mau makan apa nih kita? pada tutup semua tau." Kata Kinan
"Gatau ih, yaudah kita naik angkot aja dulu, ntar dipikirin mau makan dimana." Kataku.
Alhasil kami naik angkot padahal nggak ada tujuan.
"Kemana nih?" tanya Kinan
"Kemana ya? bingung euy, Ohh ... atau enggak, kita ke IP aja, makan di KFC." Kataku ngawur, kebetulan angkot yang kami naiki tujuannya ke IP
"Ihh.. masa kesana, gembel banget tau, belum mandi." protes Kinan.
"Biarin we, yang penting kenyang, daripada nggaktau mau makan apa." Kataku.
"Ha ha ha, yaudahlah hayuk kalau gitu mah"
Akhirnya kami makan disana, dengan penampilan yang antah barantah, mandi aja belum :)
Ngomong-ngomong soal mandi, aku juga pernah sama Nia, waktu itu latihan subuh dan kami males mandi karena masih dingin banget.
"Nia, kamu mandi nggak? dingin banget ya?" Aku tanya ke Nia waktu jalan kekamar mandi.
"Nggaktau nih, dingin banget jadi males mandi, kamu? mandi nggak, Me?" Tanya Nia balik.
"Nggak usah mandi aja yuk? kita cuci muka sama gosok gigi aja, kan orang lain juga nggak tau kalau kita nggak mandi, yang tau kan cuma kita dan Allah, kita diem-diem aja" Kataku. ha ha ha (males banget ya?)
"Yaudah, Okelah kalau begitu, tapi bener ya, jangan bilang-bilang sama orang"
"Iyaa, Nia. Kan akunya juga nggak mandi, nanti kita pake parfum aja biar wangi, biar dikira orang-orang kita udah mandi"
"Ha ha ha kamu mah ada-ada aja Me, yaudah aku nggak mandi deh." Akhirnya Nia terhasut. Ha ha ha
Dulu, Nia juga bantuin aku nguncirin rambut aku, waktu aku baru-baru manjangin rambut, jadi dulu itu, yaa ... kalau kata orang sih kaya cowo, tomboy gitu, rambut aku juga pendek kaya cowo, jadi wajar aku nggak bisa nguncir rambut sendiri waktu itu. hi hi hi
Apalagi kalau latihan pagi atau kadang subuh, Nia harus bangun lebih awal buat nguncirin rambut aku, dia juga suka kesel kadang-kadang, tapi aku nggak peduli, yang penting aku rapi. Aku juga minta kuncir rambutnya Nia, jepit rambutnya dia juga aku minta, pernah sekali dia kesel
"Eme, kamu beli dong kuncir rambut, jangan minta mulu" katanya.
"Iya, ntar aku beli"
Tapi tetap, aku nggak beli. ha ha ha
Dikamar, aku emang lebih dekat dengan Nia, mungkin karena kami lebih sering berdua, curhat-curhatan berdua, kenyang berdua, lapar berdua. Pernah waktu itu jajan kami sama-sama udah abis, jadi kami beli makanan ke warung belakang, ngutang dulu, belinya sebungkus, makannya berdua, lauknya juga seingat aku cuma pakai telur dadar dan minumnya kami beli Teh Gelas.
Kamar kami, dulu, kami namai "Kamar Keramat", karena kami merasa kami berempat itu selalu senasib, kalau lagi susah, semua susah, kalau senang, semua senang, satu galau, yang lain pun akan nyusul galau, walau dengan penyebab yang berbeda, sampai-sampai satu berhenti dan pulang kampung, semua juga nyusul.
Ini bagian tersedih yang aku rasain, Kinan duluan yang berhenti dan balik ke Jakarta, dia memutuskan untuk sekolah di Jakarta. Lalu, nggak berapa lama Novi juga balik ke kampung dan sekolah. Saat itu, aku cuma berdua sama Nia sekamar. Sampai saat Nia juga berhenti dan pulang, akhirnya aku tinggal sendiri dikamar. Sempat sih agak lama aku bertahan, tapi lama-lama, aku mulai nggak betah, bukan karena sendiri dikamar, yang pasti masalah yang nggak bisa aku ceritain disini, saat itu juga orangtuaku nyuruh aku balik aja, karena waktu itu keadaan ekonomi keluarga yang sedang susah.
Akhirnya, saat aku sedang beristirahat dikamar sendiri, aku menimbang-nimbang niatku untuk balik ke kampung, dan aku memutuskan untuk balik ke kampung, langsung aku telfon Papa
"Assalamualaikum, Pa. Gimana kabar Papa? sehat?"
"Waalaikumsalam, sehat nak, kamu gimana? sehatkan?"
"Sehat, Pa."
"Ada apa nelfon nak? apa ada masalah?"
"Nggak ada, Pa. Papa..(aku diam, meyakinkan niatku untuk pulang)"
"Kenapa, Nak?"
"Pa, kalau aku balik aja gimana? boleh?"
"Kenapa, Nak? kamu udah nggak sanggup lagi? Tanya papa
"Bukan pa, sanggup, cuma pengen balik aja." Kataku
"Kalau kamu mau balik, yaudah, besok langsung kita urus, lagiankan Om (Pelatihku) juga lagi ada disana (memang pelatihku kebetulan lagi ada di Bandung mengurus pekerjaan, sekalian menjenguk aku dan anaknya yang latihan satu club denganku), bisa sekalian pulang nanti, biar Papa ngomong nanti sama Om, ya?" Kata papa
"Iya, Pa." Cuma itu yang bisa kujawab.
"Ada lagi Nak?"
"Enggak, Pa. Cuma itu aja."
"Yaudah, kalau gitu Papa telfon Om dulu ya, Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jujur saja, waktu itu aku antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang udah aku bilang ke Papa, bagiku, keputusan itu rasanya sangat berat, mengingat masuk ke club itu adalah cita-citaku dari dulu, cita-citaku yang ingin jadi atlet yang besar nantinya.
Yasudah, nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya.
Akhirnya, setelah pekerjaan pelatihku di Bandung selesai, aku pulang. Balik ke kampung halamanku.
Terimakasih Bandung, sudah memberi aku banyak pelajaran, disana aku belajar disiplin, aku belajar lebih menghargai orang-orang yang aku sayangi, disana juga aku mengerti betapa pentingnya persahabatan, disana juga aku belajar mandiri. Terimakasih sudah menjadikan aku orang yang lebih baik sebelumnya, sudah membuka pikiranku lebih luas. Terimakasih untuk semua yang ada di club itu, semuanya telah mengajariku banyak hal, memberiku banyak pengalaman.
Terimakasih semua teman-temanku...
Terimakasih udah memberikan aku kenangan yang seindah ini, dan tulisan ini, aku buat hanya untuk dikenang. Karena waktu akan membuat kita lupa, tapi menulis akan membantu kita untuk mengingatnya, dan aku juga nggak ingin untuk melupakan kenangan indah ini.
Terimakasih...
Ohiya, sejak saat itu aku juga biasa di panggil "Eme", Novi di panggil "Rembo" dan waktu itu teman yang juga lolos audisi ada yang masuk asrama lagi yaitu Dewi, biasa kami panggil "Emak" dan Nisa, mereka sekamar dengan Alwi dan Jeni. Sebelumnya Agnia memutuskan untuk pulang kekampung, seingatku dia berhenti dan melanjutkan sekolah dikampungnya.
Sekamar Novi, Kinan dan Nia, cukup asyik, mungkin karena kami satu pelatih. Dulu, kalau mau makan dikantin kami sering turun berempat, atau kadang juga dengan anak-anak kamar yang lain juga. Awal sekamar dulu, kami juga kadang-kadang suka bertengkar kecil. Ya ... maklumlah, dulu kami hanya remaja yang masih labil, ha ha ha
Aku ingat pernah bertengkar dengan Nia cuma gara-gara aku nggak mau bagi buah mangga yang aku beli diwarung belakang asrama.
"Bagi dong Me mangganya" Pinta Nia berharap aku bagi.
"Tapi aku masih laper banget euy, kamu beli aja sendiri"
"Ihhh!!! Kamu mah DASAR PELIT!!" dengan muka kesal.
Aku cuma diam nggak peduliin Nia sambil terus memakan mangga.
Melihat aku tidak peduli, Nia makin ngambek. HA HA HA
Nggak berapa lama kemudian, Nia keluar beli seblak diwarung belakang (seblak itu salah satu makanan khas Bandung), aku nggak ikut, karena memang dia nggak ngajak, mungkin karena masih ngambek. Setelah kembali dari warung, Nia memakan seblaknya dikamar, terus aku minta seblaknya karna aku masih lapar dan malas turun tangga buat beli makanan lagi diwarung belakang. Memang benar, Nia memang masih kesal sama aku karna nggak mau bagi buah mangga yang tadi aku beli. Alhasil, dia ngomel-ngomel ke aku, aku ingat saat dia ngomel-ngomel dengan medok Jawanya yang khas. Mendengar Nia terus ngomel, aku malah ketawa, ha ha ha. Entah mengapa, mungkin memang lucu mendengar dia ngomel atau mungkin juga memang aku orang yang menyebalkan waktu itu. Setelah puas ngomel, Nia diam, aku juga diam, suasanapun hening, lalu tiba-tiba kami jadi ketawa sendiri, padahal nggak ada yang ngelawak, kami juga nggak tau kenapa bisa ketawa, dan setelah itu barulah Nia membagikan seblaknya.
HA HA HA... Aku merasa menang. Makasih Nia, maaf dulu aku ngeselin, hi hi
Dulu, kami sekamar juga sering nonton TV melalui HP Cina punya Nia. Padahal udah jam tidur, memang diasrama TVnya cuma ada di depan kamar kami, jadi kalau nonton harus rame-rame, dan jam 10 malam, semua atlet harus masuk kamar, biasanya suka ada satpam yang nngeronda buat ngecek atlet-atlet. Kalau udah ada satpam yang ngecek, biasanya kami pura-pura tidur.
Tiap malam Jumat kami juga suka dengerin Radio Ardan, yang nyiarin cerita-cerita serem, biasanya kami tidur dilantai semua kalau malam Jumat dan dengerin Radio Ardan. Jadi, kasur-kasurnya kami turunin ke lantai, karena pada takut tidur sendirian dikasur. ha ha
Pernah, pas Hari Ibu, kami galau-galauan gak jelas dikamar sambil dengerin lagu Bundanya by Melly Goeslaw. Jadi, jam 12 malam sebelum Hari Ibu itu, kami pada sedih karna kangen sama Induknya masing-masing. Kami juga pada ngucapin Selamat Hari Ibu, lewat HP tentunya. Aku sendiri sih nggak ngucapin, karena takut dimarahin Mama, kan udah tengah malam, trus Novi juga bilang sebenarnya dia nggak ngucapin "aku cuma sedih aja efek denger lagu Bunda" kata Novi.
Kadang-kadang kami juga suka liatin bintang-bintang dilangit, biar apa coba? ha ha ha
Jadi, di lantai 4 itu ada tempat buat jemur pakaiannya, diluar gitu. Nggak luas sih. Jadi kalau malam kami kadang suka gelarin tikar disitu, trus kita tiduran rame-rame sama anak-anak lantai 4 (cewe semua) sambil liat bulan dan bintang, sambil cerita nggak jelas gitu, curhat di marahin pelatihlah, sampe ujung-ujungnya galau juga rame-rame gara-gara cerita kangen keluarga. ALAY banget ya kita dulu, liatin bulan dan bintang ha ha ha. Tapi kangen :(
Kami juga pernah sok-sok an mau kulineran ke PVJ (salah satu mall di Bandung), kita perginya hari Minggu pagi, karna Minggu itu latihan diliburkan, waktu itu, kalau nggak salah masih awal bulan, jadi kita baru dikirimi uang jajan sama orangtua kita masing-masing. Nggak banyak, kalau nggak salah waktu itu aku cuma bawa uang 300 ribu doang. Dikamar, kami udah berekspetasi untuk makan semua yang ada di mall itu, semua mau kami beli, dan kami juga berencana untuk photo studio. Dengan semangat, kami langsung siap-siap.
Kalau biasanya kami pergi kemana-mana naik angkot, tapi karena pagi itu kami merasa sedang keren, jadi kami memutuskan untuk naik taksi. Padahal didalam taksi juga sempit-sempitan ha ha ha
Terus, pas udah sampe di mall, karena yang pertama kami lihat KFC, jadinya kami makan dulu disitu, itung-itung pemanasan. Kami juga memesan banyak menu, sesuai rencana "KULINERAN".
Dan tau apa yang terjadi? ha ha ha
Setelah makan di KFC dengan mesan banyak menu, kami jadi kekenyangan, uang kami juga udah pada abis, akhirnya rencana kulineran kami pun gagal total, cuma makan di KFC doang ha ha ha.
Akhirnya kami cuma muter-muter aja di mall, masuk toko, nyobain barangnya, foto-foto, tapi nggak beli. Lalu, kami pergi ke photo studio, abis itu pulang deh ha ha ha. Sok-sok an kulineran!!
Sama Kinan, yang masih ingat sampe sekarang, kami pernah pagi-pagi nyari sarapan keluar, itu pas hari Minggu, latihan diliburkan. Jadi dari asrama kami jalan kedepan gang, cuma pake celana pendek dan jaket latihan doang, muka kita juga dalam kondisi masih muka bantal, bener-bener baru bangun dan cuci muka sama sikat gigi doang, nggak MANDI. Nah, kita rencananya cuma nyari makan didepan gang aja karena biasanya disitu banyak orang yang jual makanan, tapi, entah kenapa hari itu pada tutup semua.
"Me, mau makan apa nih kita? pada tutup semua tau." Kata Kinan
"Gatau ih, yaudah kita naik angkot aja dulu, ntar dipikirin mau makan dimana." Kataku.
Alhasil kami naik angkot padahal nggak ada tujuan.
"Kemana nih?" tanya Kinan
"Kemana ya? bingung euy, Ohh ... atau enggak, kita ke IP aja, makan di KFC." Kataku ngawur, kebetulan angkot yang kami naiki tujuannya ke IP
"Ihh.. masa kesana, gembel banget tau, belum mandi." protes Kinan.
"Biarin we, yang penting kenyang, daripada nggaktau mau makan apa." Kataku.
"Ha ha ha, yaudahlah hayuk kalau gitu mah"
Akhirnya kami makan disana, dengan penampilan yang antah barantah, mandi aja belum :)
Ngomong-ngomong soal mandi, aku juga pernah sama Nia, waktu itu latihan subuh dan kami males mandi karena masih dingin banget.
"Nia, kamu mandi nggak? dingin banget ya?" Aku tanya ke Nia waktu jalan kekamar mandi.
"Nggaktau nih, dingin banget jadi males mandi, kamu? mandi nggak, Me?" Tanya Nia balik.
"Nggak usah mandi aja yuk? kita cuci muka sama gosok gigi aja, kan orang lain juga nggak tau kalau kita nggak mandi, yang tau kan cuma kita dan Allah, kita diem-diem aja" Kataku. ha ha ha (males banget ya?)
"Yaudah, Okelah kalau begitu, tapi bener ya, jangan bilang-bilang sama orang"
"Iyaa, Nia. Kan akunya juga nggak mandi, nanti kita pake parfum aja biar wangi, biar dikira orang-orang kita udah mandi"
"Ha ha ha kamu mah ada-ada aja Me, yaudah aku nggak mandi deh." Akhirnya Nia terhasut. Ha ha ha
Dulu, Nia juga bantuin aku nguncirin rambut aku, waktu aku baru-baru manjangin rambut, jadi dulu itu, yaa ... kalau kata orang sih kaya cowo, tomboy gitu, rambut aku juga pendek kaya cowo, jadi wajar aku nggak bisa nguncir rambut sendiri waktu itu. hi hi hi
Apalagi kalau latihan pagi atau kadang subuh, Nia harus bangun lebih awal buat nguncirin rambut aku, dia juga suka kesel kadang-kadang, tapi aku nggak peduli, yang penting aku rapi. Aku juga minta kuncir rambutnya Nia, jepit rambutnya dia juga aku minta, pernah sekali dia kesel
"Eme, kamu beli dong kuncir rambut, jangan minta mulu" katanya.
"Iya, ntar aku beli"
Tapi tetap, aku nggak beli. ha ha ha
Dikamar, aku emang lebih dekat dengan Nia, mungkin karena kami lebih sering berdua, curhat-curhatan berdua, kenyang berdua, lapar berdua. Pernah waktu itu jajan kami sama-sama udah abis, jadi kami beli makanan ke warung belakang, ngutang dulu, belinya sebungkus, makannya berdua, lauknya juga seingat aku cuma pakai telur dadar dan minumnya kami beli Teh Gelas.
Kamar kami, dulu, kami namai "Kamar Keramat", karena kami merasa kami berempat itu selalu senasib, kalau lagi susah, semua susah, kalau senang, semua senang, satu galau, yang lain pun akan nyusul galau, walau dengan penyebab yang berbeda, sampai-sampai satu berhenti dan pulang kampung, semua juga nyusul.
Ini bagian tersedih yang aku rasain, Kinan duluan yang berhenti dan balik ke Jakarta, dia memutuskan untuk sekolah di Jakarta. Lalu, nggak berapa lama Novi juga balik ke kampung dan sekolah. Saat itu, aku cuma berdua sama Nia sekamar. Sampai saat Nia juga berhenti dan pulang, akhirnya aku tinggal sendiri dikamar. Sempat sih agak lama aku bertahan, tapi lama-lama, aku mulai nggak betah, bukan karena sendiri dikamar, yang pasti masalah yang nggak bisa aku ceritain disini, saat itu juga orangtuaku nyuruh aku balik aja, karena waktu itu keadaan ekonomi keluarga yang sedang susah.
Akhirnya, saat aku sedang beristirahat dikamar sendiri, aku menimbang-nimbang niatku untuk balik ke kampung, dan aku memutuskan untuk balik ke kampung, langsung aku telfon Papa
"Assalamualaikum, Pa. Gimana kabar Papa? sehat?"
"Waalaikumsalam, sehat nak, kamu gimana? sehatkan?"
"Sehat, Pa."
"Ada apa nelfon nak? apa ada masalah?"
"Nggak ada, Pa. Papa..(aku diam, meyakinkan niatku untuk pulang)"
"Kenapa, Nak?"
"Pa, kalau aku balik aja gimana? boleh?"
"Kenapa, Nak? kamu udah nggak sanggup lagi? Tanya papa
"Bukan pa, sanggup, cuma pengen balik aja." Kataku
"Kalau kamu mau balik, yaudah, besok langsung kita urus, lagiankan Om (Pelatihku) juga lagi ada disana (memang pelatihku kebetulan lagi ada di Bandung mengurus pekerjaan, sekalian menjenguk aku dan anaknya yang latihan satu club denganku), bisa sekalian pulang nanti, biar Papa ngomong nanti sama Om, ya?" Kata papa
"Iya, Pa." Cuma itu yang bisa kujawab.
"Ada lagi Nak?"
"Enggak, Pa. Cuma itu aja."
"Yaudah, kalau gitu Papa telfon Om dulu ya, Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jujur saja, waktu itu aku antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang udah aku bilang ke Papa, bagiku, keputusan itu rasanya sangat berat, mengingat masuk ke club itu adalah cita-citaku dari dulu, cita-citaku yang ingin jadi atlet yang besar nantinya.
Yasudah, nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun tak ada gunanya.
Akhirnya, setelah pekerjaan pelatihku di Bandung selesai, aku pulang. Balik ke kampung halamanku.
Terimakasih Bandung, sudah memberi aku banyak pelajaran, disana aku belajar disiplin, aku belajar lebih menghargai orang-orang yang aku sayangi, disana juga aku mengerti betapa pentingnya persahabatan, disana juga aku belajar mandiri. Terimakasih sudah menjadikan aku orang yang lebih baik sebelumnya, sudah membuka pikiranku lebih luas. Terimakasih untuk semua yang ada di club itu, semuanya telah mengajariku banyak hal, memberiku banyak pengalaman.
Terimakasih semua teman-temanku...
Terimakasih udah memberikan aku kenangan yang seindah ini, dan tulisan ini, aku buat hanya untuk dikenang. Karena waktu akan membuat kita lupa, tapi menulis akan membantu kita untuk mengingatnya, dan aku juga nggak ingin untuk melupakan kenangan indah ini.
Terimakasih...

lanjut mbak, ceritanya
BalasHapusSiap, Kang
Hapustambahin widgetnya mbak, biar rame blog nya :)
HapusWah, siap! Terimakasih masukannya, ya :)
Hapusrasakan bermain secara online di AJOQQ
BalasHapusmin dp. 15ribu
min wd. 15ribu
coba daftar, main dan menangkan hingga ratusan juta
jadilah pemenang di AJOQQ